Catatan Kecil DINA FERDINA
Saya bernama Dina Ferinda. Saya tinggal di Jalan Cipadung Permai. Saya lahir di Bandung pada 25 Februari tahun 1988, orang tua saya bernama Rohana Tarigan dan Syafirudin Sitepu, ayah saya berasal dari Medan, ayah saya keturunana Karo dan Ibu saya keturunan Jawa.
Saya di besarkan di lingkungan muslim. Ketika saya sekolah di Taman Kanak-kanak (TK), saya di sekolahkan di TK Amal Bakti yang notabene berbasic agama Islam. Pada masa TK saya sudah belajar mandiri, terbiasa pulang dan pergi ke TK sendiri. Bukan hanya pulang pergi ke TK sendiri, tapi saya juga terbiasa bermain sendiri. Tapi beruntung saya bisa menikmati masa-masa kecil saya. etika saya kecil. Sungguh menyenangkan bermain petak umpet, perang-perangan, masak-masakkan, main barbie, main gatra, main karet, dan masih banyak lagi permainan-permainan lain yang pernah saya mainkan ketika masih kanak-kanak. Meski suka main-main dengan teman sebaya, tapi saya juga tidak pernah lupa untuk shalat lima waktu dan mengikuti pengajian rutin sehabis shalat ashar. Saat itu saya punya sahabat kerib bernama Kiki. Kemana mana kami selalu berdua. Bahkan saking dekatnya saya pernah ikut-ikutan mudik ke kampung halamannya di Cirebon. Tapi sekarng entah dimana sahabatku itu. Saya tidak tahu lagi kabar sahabat di masa kecil dan tentu selalu berharap suatu saat bisa bertemu kembali denganya.
Pada usia 7, tahun saya disekolahkan di Desa Cipadung, tepatnya di SDN Cipadung 02. Pada saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), saya tidak hanya sekolah di satu sekolah saja. Ketika kelas 3 SD, saya pindah sekolah ke daerah Tasikmalaya, tepatnya di daerah Singaparna. Waktu itu, saya mengikuti kakak untuk mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren Sukahideung. Saya sekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sukahideung. Hanya satu tahun. Dan setelah itu kembali pindah sekolah ke Bandung, tepatnya di SDN Cipadung 01 hingga tamat.
Ada dua masa yang saya alami ketika duduk di bangku SD. Waktu sekolah di SDN Cipadung 02 dan di MI Sukahideung, saya benar-benar merasakan indahnya sebuah persahabatan. Saat itu, saya memiliki dua sahabat. Namanya Winda dan Anggi. Sungguh merasa bahagia. Selain Winda dan Anggi, saya juga merasa lucu ketika mengalami “cinta monyet” waktu masih kelas 3 SD. Teman “cinta monyet” saya adalah siswa kelas 6 SD. Namanya Cahya Ginanjar, murid teladan di sekolah dan selalu mendapat juara satu. Itulah masa-masa sangat indah yang tidak dapat saya lupakan.
Ada juga satu masa yang membuat saya merasa sangat terluka, ketika sekolah di SDN Cipadung 01. Waktu itu saya pernah merasakan betapa sakitnya dikhianati oleh teman sebangku. Saat itu pula saya merasa sangat asing di tempat tinggal sendiri. Setiap hari saya selalu sendiri, dan dimusuhi oleh teman-teman sekelas. Saya tidak tahu apa sebabnya, tapi yang pasti saya pernah berkelahi dengan “preman” yang ada di kelas saya dan setelah saat dimusuhi.
Saya hanya punya teman satu-satunya. Dan sayang sekali dia juga menghianati. Dia menceritakan kepada semua tentang apa yang saya ceritakan kepadanya. Saat itu saya benar-benar kecewa dan terluka. Namun saya bersyukur pada apa yang saya alami, karena orang-orang yang sebelumnya menjauh, selanjutnya mendekati lagi dan meminta maaf. Saya yakin setiap yang benar akan tetap benar dan setiap yang salah akan tetap salah. Tuhan memang Maha Adil.
Beranjak remaja, saya melajutkan study ke jenjang yang lebih tinggi lagi di Tasikmalaya, tepatnya di pondok pesantren Sukahideung. Di pesantren ini, saya mencoba mendalami ilmu agama sambil sekolah. Dipesantren ini menjalani berbagi kegiatan yang cukup padat. Ketika saya menjadi santri baru, mengikuti kegiatan taujihat, yaitu sebuah kegiatan pengenalan pesantren beserta berbagai kegiatannya yang cukup padat dan juga sanksi-sanksi yang akan dijatuhkan saat ada seorang santri melakukan sebuah pelanggaran.
Saat itu saya sangat menikmati berbagi kegiatan taujihat, dari mulai pemotretan santri baru, shalat subuh berjamaah, bimbingan-bimbingan keagamaan, renungan, hiburan, hingga shalat berjamaah Isya. Dan ketika saya menjadi siswa baru di MTSN Sukamanah, saya juga mengikuti kegiatn Masa Orientasi Siswa (MOS). Kegiatan MOS tidak jauh berbeda dengan kegiatan taujihat di Pondok Pesantren Sukahideng.
Setelah selesai kegiatan MOS, sekolah pun di mulai. Banyak kegiatan yang saya ikuti, antara lain organisasi Palang Merah Remaja (PMR) dan Organisasi Intra Sekolah (OSIS). Di MPR, saya menjabat sebagai Sekertaris II, dan di OSIS menjabat sebagai Seksi bidang VIII (Bidang Kesenian). Selain mengikuti kegiatan di sekolah, saya juga pernah mengikuti perlombaan membaca puisi dan teater. Lalu aktif juga menjadi panitia pada beberapa acara keagamaan dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Saya banyak menghabiskan waktu di pondok pesantren. Sejak bangun tidur jam 03.00, langsung mengantri untuk mandi. Lalu shalat subuh berjamaah. Selepas shalat Subuh, bersiap-siap untuk pergi mengaji. Pengajian dimulai dari jam 05.00 sampai 06.00 WIB. Setelah pulang dari pengajian, biasanya ikut membantu teman-teman untuk membersihkan rumah Ibu Ajengan di Pesantren. Setelah itu barulah saya sarapan dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Saya sekolah dari jam 07.00 sampai 13.00 WIB.
Setelah pulang dari sekolah, saya langsung shalat dzuhur dan makan siang. Setelah itu, menggunakan waktu yang sempit untuk istirahat. Terkadang saya tidak sempat untuk istirahat siang karena harus mencuci pakaian. Jam 15.00 saya harus mengantri untuk mengambil air wudhlu dan sambil menunggu shalat ashar. Saya membiasakan diri untuk membaca al-Quran sambil menunggu tibanya sholat Ashar. Setelah itu, saya bersiap-siap untuk pergi mengaji. Biasanya dari jam 16.00 sampai 17.00 WIB.
Sepulang dari pengajian, saya langsung mandi dan makan sore. Setelah itu, saya bersiap-siap untuk shalat magrib berjamaah. Sambil menunggu waktu Magrib, saya membaca al-Quran. Dan setelah shalat magrib berjamaah, harus bersiap-siap untuk pergi lagi ke pengajian. Pulang dari pengajian sekitar jam 20:00 WIB. Setelah itu, bersiap-siap shalat berjamaah Isya. Selanjutnya belajar wajib dari jam 21:00 sampai jam 22:00 WIB. Nah… setelah itu barulah istirahat (tidur).
Selain kegiatan rutin, ada kegiatan rutinitas mingguan. Setiap malam Rabu ada acara cerdas cermat; malam Selasa ceramah umum, malam Jum’at ngaji yasin, musofahah dan juga kegiatan memperingati nhari besar islam, diantaranya menyambut acara isra’mi’raj yang biasanya diadakan berbagai macam perlombaan. Ada lomba kebersihan kamar, perlombaan voli antar kamar dan asrama, perlombaan hafisz al-Qur’an, lomba baca puisi, dan sebagainya .
Semua itu saya jalani selama tiga tahun. Tidak ada rasa jenuh, karena di pesantren begitu merasakan indahnya sebuah persahabatan dan juga indahnya… cinta pertama. Saat itu saya benar-benar sangat culun, karena ketika saya berpacaran, untuk bertemu saja rasanya grogi setengah mati. Saya menjalani masa-masa pacaran ketika di pesantren secara sembunyi-sembunyi. Hanya berhubungan via surat dan atau sekedar pulang bareng yang itupun sembunyi-sembunyi. Maklum takut ketahuan sama keamanan pesantren.
Tanpa terasa, usiaku semakin bertambah. Ketika saya kelas 1 dan kelas 2 SMA, saya sekolah di MAN Sukamanah, dan kelas 3 pindah ke MAN 2 Bandung. Selama saya sekolah di MAN Sukamanah, banyak sekali kegiatan yang saya lakukan. Mulai aktif di OSIS, Paskibra, dan juga di Rohis. Selain itu saya juga aktif di kegiatan Teater Sarung. Di sana saya mendapatkan berbagai ilmu tentang akting, membaca puisi. Di masa-masa SMA pun pernah merasakan “cinta SMA” dan indahnya sebuah persahabatan. Saat itu saya punya dua orang sahabat yang sampai saat ini masih tetap terjalin dalam duka maupun suka. Saya juga pernah mencintai seorang… guru olah raga yang kebetulan masih lajang. Awalnya saya sangat tidak suka padanya. Pelajaran olahraga itu menjadi pelajaran yang sangat menyebalkan. Tapi, pada saat gurunya memberikan perhatian lebih, maka luluhlah hati ini. Dan… dan… tidak akan saya ceritakan kelanjutannya.
Ketika duduk di kelas 3 SMA, saya pindah sekolah ke Bandung, tepatnya di MAN 2 Bandung. Di sana, saya tidak terlalu aktif dalam kegiatan organisasi intra sekolah atau ekstrakurikuler. Saya lebih memfokuskan diri untuk menghadapi Ujian Akhir Negara (UAN). Dan akhirnya saya lulus dengan hasil yang memuaskan. Dengan modal ijazah, saya melanjutkan studi ke UIN Bandung. Saya mengambil Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) di Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Pada saat menjadi mahasiswa baru, seperti halnya mahasiswa baru lainnya, saya juga turut menjalani kegiatan taaruf dan Opab. Sampai saat ini, saya masih kuliah di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.***
Dina Ferdina, Mahasiswi Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UIN Sunan Gunung Djati, Bandung (semester III).
waduh, KPI jg yua?
slam knal nyoo…
abi abi jg KPI, tp d UIN Jkrta…
KPI d bdg bgm?
seru tak?
tmn2 bnyak yg d UIN BDG loww…….
da Leli,
Lina,
Nenden,
Toni,
dll d…
knal teu?
salam yua…
eh,prnah d skhideng jg y?
MAN ny jg g?
abi ge pernah da…
dr klas XI IPA 3,
kls XII IPA 2,
dina ferdina mna uy?
am knal teu?
hwehehe,
oia, asy-syifa brp?
am as-syifa 1 pak Ii..
yuk ah!
^-^
Q jg di fak dakwah tp jrusn TI Di IAIN BNjarmasn..
D sni peminat KPI ga bgtu bxk..