<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Website Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN SGD</title>
	<atom:link href="http://kopinet.info/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://kopinet.info</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 23:17:24 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Bermula Dengan Do’a</title>
		<link>http://kopinet.info/bermula-dengan-do%e2%80%99a/</link>
		<comments>http://kopinet.info/bermula-dengan-do%e2%80%99a/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 23:17:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suzi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The Memories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopinet.info/?p=417</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Kecil ANNISA HURUL AINI

Setiap orang tua pasti menginginkan nama yang terbaik bagi anak-anaknya, agar mereka kelak menjadi orang yang baik sesuai namanya. Soal nama memang penting, karena nama adalah do'a, dan pada nama yang pertama kali dilekatkan pada jiwaku sudah terpatri sebuah do'a. Begitu pula ayah dan ibu, mereka ingin memberi nama yang indah bagi anaknya. Karena itulah ayah lebih memilih nama Annisa Hurul Aini yang memiliki makna begitu indah. Ayah pada saat itu belum banyak mengetahui tentang agama, tapi keinginan ayah untuk memilki anak-anak yang shaleh/ah sangat kuat. Ayah menyukai bacaan-bacaan buku agama. Suatu saat, ayah membaca tentang wanita sholehah bernama Annisa Hurul Aini, yang artinya perempuan yang mempunyai mata bercahaya."Nah... itulah, ayah harap teteh bisa menjadi cahaya bagi keluarga dan lingkungan, juga cahaya di akhirat nanti!" begitu jawab ayah ketika ditanya tentang arti dari namaku.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Catatan Kecil ANNISA HURUL AINI</p>
<p>Aku anak sulung di keluarga Semuanya ada 3 bersaudara. Adikku yang pertama laki-laki, bernama Muhammad Iqbal Muttaqin Imama. Sedangkan adikku yang bungsu perempuan, bernama Siti Sarah Nur Islamiah. Hidup dalam keluarga yang ketat dan disiplin, besar langsung dalam asuhan ayah dan ibu tercinta, tidak ada campur tangan pembantu apalagi <em>baby sitter</em>. Sungguh, Betapa bersyukurnya aku ditaqdirkan Allah bisa tumbuh besar dan dewasa langsung dibawah kasih sayang kedua orang tua sendiri. Sesuatu yang mulai langka di zaman modern seperti sekarang ini.</p>
<p>Nama Ayah adalah E.Supriatna dan ibunda bernama Ina Lugina. Aku biasa memanggil dengan panggilan ayah dan ibu. Pendidikan terakhir ayah adalah Analis Kimia ITB, sedangkan pendidikan terakhir ibu D2 Akta2 IKIP bandung. Ayah dan ibu menikah pada 09 Januari 1987 di Ujung Berung, Bandung. Hanya satu bulan perut ibu kosong, dan menurut cerita Ibu, tangisanku pecah pertama kali tepat pada Adzan subuh berkumandang, senin 03 November 1987, jam 5.10 WIBB,  ditangani oleh bidan Juariah di daerah Sukajadi Bandung. Bayi mungil dengan berat 3,5kg itu diberi nama oleh ayah dan diamanahi kepadaku &#8220;Annisa Hurul Aini&#8221;.</p>
<p>Setiap orang tua pasti menginginkan nama yang terbaik bagi anak-anaknya, agar mereka kelak menjadi orang yang baik sesuai namanya. Soal nama memang penting, karena nama adalah do&#8217;a, dan pada nama yang pertama kali dilekatkan pada jiwaku sudah terpatri sebuah do&#8217;a. Begitu pula ayah dan ibu, mereka ingin memberi nama yang indah bagi anaknya. Karena itulah ayah lebih memilih nama Annisa Hurul Aini yang memiliki makna begitu indah. Ayah pada saat itu belum banyak mengetahui tentang agama, tapi keinginan ayah untuk memilki anak-anak yang shaleh/ah sangat kuat. Ayah menyukai bacaan-bacaan buku agama. Suatu saat, ayah membaca tentang wanita sholehah bernama Annisa Hurul Aini, yang artinya perempuan yang mempunyai mata bercahaya.&#8221;Nah&#8230; itulah, ayah harap teteh bisa menjadi cahaya bagi keluarga dan lingkungan, juga cahaya di akhirat nanti!&#8221; begitu jawab ayah ketika ditanya tentang arti dari namaku.</p>
<p>Begitulah, Ayah dan Ibu tampaknya benar-benar memahami soal keharusan umat islam agar memberه nama yang baik untuk putra-putrinya.  Ayah pernah berkata bahwa nama itu bagian dari do&#8217;a, dan ayah ingin mendoakan anak-anaknya melalui nama yang disematkan pada kami. Bukankah Allah itu Maha Indah dan juga mencintai keindahan?. Maha Suci Allah yang telah menganugerahiku dua orang tua yang yang mencintai agama Allah dan Rasul-Nya, sehingga setiap tindak-tanduknya selalu didasari atas perintah agama. Sungguh ini syurga sebelum syurga! Dalam sujud aku menangis kepada Tuhan, memohonkan Rahmat dan kesejahteraan tiada penghabisan untuk Bunda..Bunda..Bunda..dan Ayahanda tercinta, semoga Allah memuliakan ayah dan ibu di dunia dan di Akhirat.amiin</p>
<p>Masa kanak-kanak, betapa indahnya. Ia adalah surga dunia. Banyak kenangan menyenangkan. Indah tak terlupakan, apalagi jika di masa kanak-kanak  itu kita berada dalam dekapan kasih sayang ibunda tercinta. Di sepanjang masa, Ibu adalah segala-galanya bagiku. Ia adalah surga, nyaris tak ada makhluk di dunia ini yang aku cintai, melebihi cintaku kepada ibu.</p>
<p>Setelah empat tahun aku hidup di dunia, lahirlah adik laki-lakiku yang yang lucu. Ayah dan ibu memberi nama Muhammad Iqbal Muttaqin Imama. Setelah ibank beranjak memasuki usia sekolah, lahirlah adik perempuanku, Siti Sarah Nur Islamiah. Secara komunikasi, aku lebih dekat dengan Kakek dan Nenekku, hehe..koq bisa?!? Karena pada saat usia prasekolah, aku sudah berada jauh dari ayah dan ibu. Aku dititipkan di rumah nenek di Ujung Berung. Mengenai alasan ibu menitipkan aku, karena pada saat itu ibank sedang butuh perhatian dan masih kecil. Ibu setiap hari harus menyediakan makan 3 kali sehari, belanja keperluan untuk makan yang pada saat itu belum ada mesin pendingin makanan, harus mencuci dan membereskan rumah dan kebetulan pada waktu itu adik ayah dan adik ibuku ikut di rumah, yang keduanya sedang sama-sama kuliah. Belum lagi kalau harus antar-jemput aku ke sekolah. Maka tenaga ibu habis.</p>
<p>Mamah (nenek) kasihan melihat kondisi ibu yang seperti itu, ya&#8230; dengan sangat terpaksa, aku dititip di mamah dan aku sekolah  di TK.Aisyiah Ujung berung. Tapi kebutuhan sekolahku ibu yang memenuhinya. Alhamdulillah, aku fikir itu benar-benar bentuk cinta dan kasih sayang ibu dalam bentuk lain. Ibu yang begitu menyayangiku sepanjang masa, dengan segenap jiwa dan raga, tetesan keringat, darah dan air matanya dan do&#8217;a-do&#8217;a yang tak pernah henti mengalir untukku. Sungguh..aku tidak ingin durhaka kepada ibu.</p>
<p>Tidak banyak yang aku ingat pada masa usia prasekolah. Aku sangat dimanja oleh mama dan bapa serta ketiga om ku. Pergi dan pulang sekolah diantar bergantian oleh semuanya. Orang-orang yang selalu aku sayangi dan sering aku repotkan, apalagi satu om kesayangan ku, Mang Iman, aku begitu dekat dengannya.</p>
<p>Arti pendidikan agama yang ditanamkan oleh orang tua sejak kecil sangat penting. Ayah dan ibu mewajibkan aku belajar agama. Meskipun keberadaanku jauh dari orang tua, tapi aku tetap belajar mengaji. Ibu adalah orang yang pertama kali mengajariku <em>alif-ba-ta-tsa</em>, mengajari membaca, menulis dan mengeja Al-Quran. Ibu guruku yang pertama dan utama, tanpa perantara hanya beliau sendiri. Namun, tak lepas dari peran mama yang mendorongku, Mang Iman dan guru ngajiku juga. Di madrasah, guru ngajiku tak sehebat ibu. Beliau hanya sebatas mengajar saja. Ketika aku sedang malas untuk mengaji, Mang Imanlah yang yang mengajariku dengan sabar. P</p>
<p>engakuan Mang Iman ketika aku bertanya tentang masa kecilku, beliau hanya menjawab &#8221; Icha tuh rada tomboy, kalau disuruh ngaji bacanya suka sambil nangis..! &#8220;hehe..semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayangnya kepada Mang Iman, amiin. Oia, aku belum bercerita nama panggilan sayangku: Icha, itu pemberian dari ibu dan mamah.</p>
<p>Di sekolah aku kurang begitu akrab dengan teman-teman sekelasku, seingatku aku mempunyai lima orang teman yang aku pun sudah tidak ingat satu persatu nama mereka semua. Sepulang sekolah, aku selalu bermain bersama teman-teman lingkungan rumah yang kebanyakan saudara-saudaraku, pulang hingga sore hari lalu berangkat ngaji di mesjid tempat biasa mama mengaji. Begitulah kegiatan dan aktivitasku sehari-hari, terus menerus tanpa lelah. Aku terus menikmati, buatku keadaan seperti ini yang membuatku rindu dekat dengan ibu, ayah dan kedua adikku,tapi..keberadaan mama dan bapa tidak membuatku kehilangan semangat, aku sangat sayang kepada mereka.</p>
<p>Adik keduaku laki-laki bernama Muhammad Iqbal Muttaqin imama Hanya selisih 4 tahun perbedaan umurku dengannya. Secara emosional aku sangat dekat dengannya. Ia begitu terbuka sampai sekarang sudah berusia 18 tahun. Sifatnya yang ceria, kadang juga emosian tapi sangat cerdas. Sekarang ia menuntut ilmu di Pesantren Modern Gontor 1 Darussalam Ponorogo Jatim, sesuai dengan impian dan doa orang tuaku yang menginginkan anak-anaknya sekolah di Pesantren. Semoga kelak Ibank menjadi laki-laki yang bisa mempertanggung jawabkan dan mengamalkan ilmunya setelah berada di tengah-tengah masyarakat kelak, amin.</p>
<p>Adik ketigaku perempuan, Siti Sarah Nur Islamiah. Sekarang usianya 13 tahun. Ia sekolah di Pesantren Persatuan Islam No I Bandung, kelas 1 tsanawiyah, satu almamater denganku karena yang mengusulkan ia bersekolah di Pesantren itu adalah aku. Ayah dan ibu memintaku untuk memilihkan ia bersekolah. Dengan berbagai pertimbangan, ia pun bersekolah di tempat sekolahku dulu. Sarah tidak terlalu dekat denganku Ia tidak terlalu banyak bicara, terlalu introphet sehingga menurutku ia mempunyai dunianya sendiri yang tidak pernah dimengerti oleh orang lain. Tapi itu semua tidak mengubah rasa sayangku pada adik bungsu. Semoga ia menjadi perempuan shalehah yang menjadi cahaya dalam agamanya,amiin.</p>
<p>Memasuki usia sekolah dasar, aku pindah ke rumah orangtuaku di Cihampelas dengan berkali-kali ganti sekolah. Di SD Pajajaran dari kelas 1-2, SD YKPPK dari kelas 3-4, dan SDN Dr.Cipto kelas 5-6. Alasan kedua orang tuaku mengapa aku berpindah-pindah sekolah: tujuan pertama, pada waktu aku daftar ke SDN Dr.Cipto tidak diterima karena aturan disana apabila ingin masuk harus ke SD lain dulu. Alasan yang sungguh tidak kumengerti. Maka aku pindah ke SDN Padjajaran, dua tahun aku disana ternyata system pengajarannya yang masih kacau. Lalu pindah ke SD YKPPK, tetapi disana pun tidak jauh berbeda dengan sekolah sebelumnya. Akhirnya pindah lagi ke SDN Dr.Cipto hingga tamat dan Alhamdulillah lulus dengan mendapatkan nilai murni hasil usaha belajarku sendiri dengan NEM 38,40.</p>
<p>Ketika semua sedang sibuk mempersiapkan registrasi masuk SMP, ayah mendaftarkanku ke sebuah pesantren di Jl.Kalipah Apo. Sebenarnya setelah lulus aku didaftarkan oleh guruku dan diterima di SMP favorit 3 dan 5 Bandung. Tapi ayah dan ibu menghendaki aku melanjutkan ke Pesantren. Ayah bilang, orang yang menuntut ilmu akhirat InsyaAllah akan mendapat ilmu dunia dan akhirat, tetapi sebaliknya orang yang hanya menuntut ilmu dunia niscaya hanya dunia yang akan melayaninya. Pedoman hidup itu terus aku pegang hingga saat ini. Akhirnya di Pesantren Persatuan Islam no 1 inilah aku dibesarkan, tempatku menggali ilmu, tempatku berbagi keceriaan, pencarian jati diri, hingga saat-saat dimana pertama kali jatuh cinta.</p>
<p>Alasan mengapa ayah menyekolahkanku di Pesantren salah satunya karena ingin mempunyai anak yang sholeh/ah yang mempunyai wawasan agama yang lengkap dari sumber yang jelas dan supaya pandangan tentang agamanya setara antara anak dengan orang tuanya. Juga karena latar belakang ayah dan ibu yang dibesarkan tanpa ilmu agama yang jadinya kurang terarah dan <em>hubbuddunya</em>. Begitulah kira-kira arti penting pendidikan agama di mata orang tuaku yang tercermin dalam kata-kata ayah tadi dan ibu pun pernah bilang &#8220;Sejelek-jeleknya orang yang tahu agama, besok ia akan tetap dipakai orang lain. Ia tak mungkin tidak digunakan di masyarakat, lebih bisa menjaga dirinya, lebih bisa berbakti kepada orang tua, lebih bisa mengamalkan ilmunya ketika terjun ke masyarakat. Dan barang siapa yang mempelajari agama Allah dengan sungguh-sungguh, niscaya Allah akan mengabulkan segala permohonan dan cita-citanya dari arah yang tak diduga-duga&#8221;. Meskipun begitu, itu terasa begitu berat bagiku, karena itu merupakan sebuah amanat yang harus aku jalani.</p>
<p>Tujuh tahun aku <em>digembleng </em> di Pesantren ini, masuk Tajhiziyyah setahun. Lalu masuk Tsanawiyyah tiga tahun, berhasil naik ke Mu&#8217;allimien selama tiga tahun juga. Banyak kejadian-kejadian yang membuatku terus menerus mengenang pesantren tempat aku menuntut ilmu. Bertemu dengan berbagai macam karakter dan pribadi setiap orang yang berbeda, hingga aku pun mengidolakan salah seorang asatidz yang amat sangat baik.  Sungguh, iman di dadaku yang selama ini terus ditanamkan dan terus dipupuk membuatku yakin, ayah dan ibu tidak salah menyekolahkanku di pesantren dan ini tidak membuatku menyesal. Ilmu yang bermanfaat dan doa dari anak yang sholeh lah yang akan terus menerus menjadi tabungan dan jariyah bagi orang tuaku kelak.</p>
<p>Bobot mata pelajaran yang lebih banyak daripada di SMP dan SMA umum membuatku terpacu untuk terus belajar menjadi yang terbaik dan menjadi kebanggaan orang tua. Hafalan-hafalan Al-Quran, pelajaran Bahasa Arab yang tidak aku mengerti hingga akhirnya sedikit-sedikit mengerti, Alhamdulillah. Kenakalan-kenakalan yang terjadi di masa tsanawiyah dan mu&#8217;allimien bukanlah menjadi sesuatu yang aneh. Dan ketika aku telah beranjak menjadi dewasa, itulah yang akan menjadi guru terbaik ketika aku mendidik keturunanku nanti. Meskipun memang sulit aku pungkiri bahwa kadangkala adapula watak-watak ibu yang kurang disukai, sebab walau bagaimanapun ibu adalah manusia biasa.</p>
<p>Beranjak dewasa, ibu mulai tidak sabar dengan sikapku. Pulang sekolah yang telat, kadang waktu bermain yang berlebihan membuat ibu jengkel hingga akhirnya ibu sering menempelengkeu, mungkin maksudnya agar aku lebih konsentrasi dengan pelajaran dan sekolahku. Tapi tetap saja aku <em>keukeuh</em> tidak merasa bersalah. Kenakalan-kenakalan di masa remaja telah membuat ayah dan ibu repot. Perbedaan pendapat antara aku dan ibu yang membuatku terbiasa untuk bercerita dan lebih terbuka dengan sahabat-sahabatku, semua tentang kehidupan, tentang kesedihan ataupun tentang cinta pertama, hampir semua aku ceritakan, hingga sampai akhirnya teman-temanku mengerti akan aku dan tentang hidupku. Sahabat-sahabat yang masih abadi sampai sekarang ada beberapa orang, diantaranya Intan, Nunun, Andre, Ayni, Husnul, Utock, Refti, Acoz, Sundus, Tya dan masih banyak yang lainnya.</p>
<p>Di Mu&#8217;allimien aku mulai bergaul dengan banyak teman-teman. Hidup dalam dunia pesantren membuatku tenang dan merasa nyaman. Teman-teman yang kompak, para asatidz yang seperti orang tua sendiri meskipun secara geografis letak pesantren berada di alun-alun kota Bandung tepatnya, dekat dengan pusat-pusat perbelanjaan. Tidak jarang ketika suasana belajar sedang berlangsung, terganggu oleh bisingnya suara kendaraan yang lalu lalang sehingga membuat belajar yang tidak kondusif. Tapi mungkin disinilah letak jihadnya, mendirikan sebuah pesantren di tengah kota merupakan sebuah tantangan bagi para santri dan asatidz untuk membuktikan bahwa pesantren masih tetap <em>eksis</em>. Berdiri kokoh meskipun tantangan di luar jauh lebih dahsyat. Dan nilah yang membuat para santri lebih menguatkan imannya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada ustadz-ustadz yang telah mendidikku.</p>
<p>Hingga saat kelulusan tiba, sebelumnya sekolahku mengadakan PLKJ (sama seperti PKL). Setiap kelompok di tempat yang berbeda-beda dan kebetulan aku mendapat tempat di Panawangan Ciamis selama tiga minggu. Banyak hikmah yang dapat dijadikan pelajaran. Ilmu yang selama 6 tahun aku tekuni berbuah hasil, terjun ke masyarakat, ceramah-ceramah di pengajian ibu-ibu, membersihkan lingkungan sekitar, dalam arti mengabdi kepada masyarakat, karena bagaimanapun juga kita disana hidup jauh dari orang tua dan harus bisa menitipkan diri kepada masyarakat sekitar. Dan hal ini yang semakin mengeratkan persahabatan dengan teman-teman. Alhamdulillah akhirnya saat-saat kelulusan itu tiba dan aku lulus.</p>
<p>Selesai Mu&#8217;allimien, aku melanjutkan kuliah ke Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak Islam Terpadu di STIT At-Taqwa  daerah Gegerkalong dengan mengambil program D2. Sama seperti tempat perkuliahan lainnya, sebelum menjadi salah satu mahasiswa, aku pun menjalani serangkaian kegiatan seperti test masuk, pengumuman kelulusan dan Ta&#8217;aruf. Akhirnya akupun  masuk. Di PGTK kebanyakan mahasiswi. Dapat dihitung dengan jari berapa banyak mahasiswanya, itupun dengan program yang berbeda. Salah satu alasan mengapa aku berminat untuk masuk PGTK, karena aku menyukai anak-anak dan dunianya. Entah itu dalam hal pendidikannya, bagiku kepolosan wajah-wajahnya yang membuat aku menyukai mereka dan juga sambil menunggu ijazah Negara  turun, karena kebetulan di tempat sekolahku dulu ijazahnya itu ada dua, ijazah pesantren dan ijazah Negara. Ujiannya pun berlangsung dua kali. Maka sambil menunggu kuliah D2 pun menjadi alternative pilihan, dan aku pun menjalaninya.</p>
<p>Tak terasa, waktu pun begitu cepat bergulir dan PPL pun tiba. Di D2, PPL dilaksanakan dua kali, di TK.Al-quran dan di TK umum. Dan ketika PPL di TK Umum, di luar sedang musim SPMB yang kembali di buka untuk tahun 2007. Aku mencoba masuk ke salah satu Universitas Negeri di daerah Cibiru, Bandung, tepatnya Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, mengikuti test tulis dan test lisan. Alhamdulillah aku lulus. Selama semester lima di PGTK, aku sudah masuk menjadi salah satu mahasiswi di kampus UIN.</p>
<p>Setelah PPL di TK umum, sambil menunggu wisuda, aku pun mulai masuk kuliah dan kembali bertemu dengan orang-orang baru, teman-teman baru lagi dan memulai dari semester awal lagi dengan mengambil jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) pilihan pertama, sedangkan pilihan keduanya Psikologi. Aku masuk dalam pilihan pertama, KPI. Alhamdulillah sampai saat ditulisnya autobiografi ini, aku msih terus kuliah di KPI semester 3.</p>
<p>Dulu, sewaktu SD, aku bercita-cita ingin menjadi dokter ahli kandungan. Tetapi cita-cita itu berubah ketika aku sudah mulai masuk mu&#8217;allimien yang ngotot ingin menjadi seorang Psikolog, ingin meneruskan kuliah di Psikologi UGM Jogja. Tapi takdir berkata lain, Allah menghendaki aku kuliah di STIT At-Taqwa hingga sampai akhirnya melanjutkan kuliah di UIN. Akhirnya Wisuda D2 pun tiba. Setelah selama 2.5 tahun menuntut ilmu di STIT, aku mendapatkan ijazah D2 dengan Nisa, Aini dan Kamal sebagai pendamping wisudaku. Karena pada saat itu, ayah dan ibu ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan. Maka aku berangkat bersama teman-temanku. Dan aku sangat berterima kasih kepada mereka, terutama kepada kamal &#8220;semangat hidupku&#8221;  yang dengan memakai timbangan Fitrah-Nya dan Mata batin-Nya, hingga akhirnya aku bisa mencintai karena merasakan kesucian jiwanya dan agamanya. Dan semoga apa yang kita di cita-citakan bersama mampu berlabuh hingga akhir, karena selama ini matahari kehidupan yang selama ini redup, kini kembali bersinar terang.txz luv..</p>
<p>Saat-saat terberat untukku ketika aku kehilangan mamah dan bapa. Bapa meninggal 5 tahun sebelum mamah. Dan setelah itu, Allah memanggil mamah saat aku sedang kuliah D2. Nenek kesayanganku, mamah menghadap ilahi. Aku belum sempat berbakti dan membalas kebaikan beliau. Padahal salah satu cita-citaku yang selalu aku bilang kepada beliau:  aku ingin mamah dan bapa hadir ketika aku wisuda dan ketika menikah. Tapi.. taqdir berkata lain. Allah lebih menyayangi mamah dan bapa dan memanggil beliau. Semoga Allah menerima kebaikan-kebaikan mamah dan bapa&#8230; amiin. Sungguh aku sayaaaaaang&#8230; kepada kakek dan nenek dan aku selalu rindu ingin dipeluk dan dicium oleh mereka. Ya Rabb&#8230; kumpulkanlah kembali kami nanti di SyurgaMu yang indah itu.amiin.</p>
<p>Salah satu cita-citaku, ingin menikah di usia muda. Ingin segera menghalalkan apa yang dilarang oleh Allah, takut mendekati zina. Tapi satu sisi, aku pun bertekad untuk segera menyelesaikan kuliah S1. Maka aku harus konsentrasi dan serius belajar serta tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang telah ayah dan ibu berikan. Dan mudah-mudahan seiring berjalannya waktu, aku harus sabar menunggu saat-saat dimana Allah memberiku seorang laki-laki yang bisa menjadi imam bagi keluarga, bisa melindungi, menjaga serta membimbingku, yaa.. semoga!!!</p>
<p>Alhamdulillah, sekarang aku mengajar di Madrasah Al-Amanah Ponyo, mengajar ngaji anak-anak yang kurang mampu. Untuk kedepannya, aku ingin membangun sebuah sekolah Taman kanak-kanak islam, Play Group, Kindergarten, dan juga sebuah madrasah di samping mesjid untuk memakmurkan kehidupan di sekitar lingkungan rumah, juga tak lupa ingin membangun sebuah radio komunitas agar anak-anak muda yang memiliki kemampuan di bidang <em>broadcast</em> bisa di salurkan di radio. Semoga keinginan, harapan dan cita-citaku terwujud, amiin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopinet.info/bermula-dengan-do%e2%80%99a/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Bukan Anak Sapi</title>
		<link>http://kopinet.info/aku-bukan-anak-sapi/</link>
		<comments>http://kopinet.info/aku-bukan-anak-sapi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 22:15:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suzi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The Memories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopinet.info/?p=414</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Kecil ADE ABDUL SYUKUR

Aku yang sewaktu balita tak pernah merasakan nikmatnya air susu ibu (ASI), hanya merasakan air susu kemasan warung. Akhirnya banyak saudara dan tetangga yang bilang bahwa aku anak sapi. Andai saja air susu ibu pernah aku rasakan, mungkin alangkah senangnya masa bayiku dan tidak akan disebut dengan julukan anak sapi. 

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Catatan Kecil ADE ABDUL SYUKUR<br />
SEMASA MASIH BAYI</p>
<p>Saya, anak ke empat dari pasangan RUSDI dan EMY HERMIYATI yang lahir di Depok, 09 September 1988. Saya diberi nama  Ade abdul syukur dengan kelahiran yang normal, berat 2,9kg, dan panjang 37,5cm. Begitu kata orang tua.</p>
<p>Saya yang sewaktu balita tak pernah merasakan nikmatnya air susu ibu (ASI), hanya merasakan air susu kemasan warung. Akhirnya banyak saudara dan tetangga yang bilang bahwa aku anak sapi. Andai saja air susu ibu pernah aku rasakan, mungkin alangkah senangnya masa bayiku dan tidak akan disebut dengan julukan anak sapi. Sudah seminggu, sebulan, dan setahun dalam pertumbuhan aku selalu diberi perhatian dan kasih sayang yang sangat lebih bagaikan seoarng anak raja.</p>
<p>SI ANAK PERANTAUAN</p>
<p>ِAyah menginginkan agar aku tidak dimasukan ke TK. Langsung saja ke sekolah dasar yang jaraknya tidak jauh dari rumah, yaitu SDN KACAPIRING IV, tepatnya berada di Jl. Sukabumi Dalam, Bandung (bersebelahan dengan kelurahan kacapiring). Disekolah, aku bertemu dengan teman-teman yang aneh dan unik Aku adalah seorang yang manja. Pada waktu kecil , belajar selalu ditemani oleh ibu sampai kelas 2 SD.</p>
<p>Setelah naik ke kelas 3, aku mulai mencoba memberanikan diri belajar sendiri tanpa ditemani ibu, dan akhirnya berhasil. Kelas 4, 5,dan 6 aku mulai menjalin persahabatan dengan teman laki-laki maupun perempuan. Kami semua belajar dan les bareng. Terlebih menjelang EBTANAS, kami lebih serius walaupun kelulusan masih ditentukan oleh NEM yang dipastikan akan lulus semua, tapi keseriusan anak-anak yang ingin melanjutkan  ke sekolah SMP Negeri yang berkualitas.</p>
<p>Setelah semua mengetahui hasil ujian, selanjutnya mencari SMPN yang diinginkan masing-masing. Tapi tidak dengan aku. Aku langsung berangkat ke kota YogJakarta bersama keluarga untuk mencari sekolah. Di Jogja aku dan keluarga sudah ditunggu oleh kakakku yang nomer dua, Nailul Fauziah. Dia kuliah di IAIN SUNAN KALIJAGA (SUKA).</p>
<p>Sebelum mencari sekolah, aku dan keluarga dajak mengelilingi Jogja. Dari mulai Borobudur, Parangteritis, Keraton, dan terakhir Malioboro. Setelah berkeliling, aku pun diajak ke pesentren kakakku, yaitu Yayasan Pondok Pesantren Wahid Hasyim asuhan kyai Jalal Sayuthi S.H., yang berada di daerah Sleman Gaten Condongcatur, Yogjakarta.<br />
Kyai yang berperan penting dalam pondok pesantren langsung mengantarkan berkeliling pesantren dengan senang hati sembari memperkenalkan tempat-tempat atau kamar yang ditempati oleh para santri. Dan di sanalah aku menuntut ilmu. Ternyata yang menyandang status perantauan dikota pelajar di MTS WAHID HASYIM bukan hanya saya.</p>
<p>awalnya tidak betah, tapi akhirnya kerasan juga walau butuh waktu 3 bulan. Setelah bejalan setahun, dua tahun, baru terasa begitu lekatnya jiwa-jiwa religious yang kental. Jiwa kekanak-kanakan pun hilang sedikit demi sedikit, berganti dengan kemandirian. Kelas 3 Mts, ujian pun tiba, dan aku lulus. Tanpa membuang-buang waktu, aku langsung kembali ke kampung halaman, yakni kota BANDUNG tercinta.</p>
<p>DUA HARI DIBANDUNG</p>
<p>Tiba di Bandung dengan menggunakan kereta api lodaya yang dari Yogja, jam 21:00 dan sampai di stasiun Hall bandung pukul 04:00 pagi. Begitu melelahkan. Kemudianlah aku istirahat. Setelah bangun dari tidur. aku membaca Koran TRIBUN JABAR halaman demi halaman sedikit serius. Di akhir halaman, aku melihat judul yang menarik PERSIB Vs PERSIJA. Langsung terbesit dalam pikiranku untuk menyaksikan pertandingan tersebut.</p>
<p>Berhubung masih libur dan masih mencari-cari SMA, aku menyempatkan waktu untuk menonton pertandingan ke stadion SILIWANGI. Tentu dengan atribut lengkap Persib. Sangat menkjubkan menonton dengan bobotoh Persib yang lainnya. Pertandingan yang sangat menegangkan sampai bersorak gembira, meski hanya diakhiri dengan hasil imbang 1-1. Walaupun imbang, cukup menggembirakan, karena baru kali itu menyaksikan pertandingan yang sangat bergengsi dengan pemain-pemain  tangguh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopinet.info/aku-bukan-anak-sapi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Tinggal Masa Nakal</title>
		<link>http://kopinet.info/selamat-tinggal-masa-nakal/</link>
		<comments>http://kopinet.info/selamat-tinggal-masa-nakal/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 21:48:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suzi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The Memories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopinet.info/?p=412</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Kecil ADE SUSILAWATI

Kenakalan terjadi ketika aku duduk di kelas 2 SMA. Setiap pulang sekolah selalu main dengan teman-teman sekelas yang mayoritas adalah laki-laki. Amanah orang tua untuk membawa kendaraan ke sekolah pun menjadi masalah karena hobi setelah pulang sekolah adalah balapan motor dengan teman-teman gank. Setiap hari celotehan dari orang tua selalu singgah di telinga dan setiap hari juga hukuman dari orang tua selalu aku dapatkan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Catatan Kecil ADE SUSILAWATI</p>
<p>Tahun 1989, tepatnya Senin, 02 Oktober, aku lahir dari rahim seorang ibu yang baik hati. Beliau memberi nama Ade Susilawati. Ibu, Apong Sulastri, hidup penuh perjuangan untuk melahirkanku, karena pada waktu itu aku terlahir dengan berat 4 kg. Nama ayah adalah Mahpudin Budianto.</p>
<p>Aku lahir di desa yang subur. Mayoritas orang-orang bekerja di desa sebagai petani. Aku adalah anak kedua dari 4 bersaudara. Kakakku perempuan dan telah menikah pada tahun 2004, bernama Puspita Dewi dengan suami bernama Asep Saefudin.</p>
<p>Dua orang adik laki-laki semuanya. Adik pertama bernama Encep Muamar dan adik kedua bernama Ajang Hakim Wijaya. Ibunda tercinta selalu mendorong, mendukung, melatih dan menanamkan nilai-nilai positif terhadap kami. Aku dididik untuk selalu jujur, berpegang teguh pada prinsip, bekerja keras, berani, tegas dalam menghadapi keputusan, disiplin, ulet,  menghargai sesama, dan mengasihi orang yang tidak mampu. Namun sifat manja dalam diriku masih tertanam sampai aku dewasa, walaupun Ibu selalu berusaha mengajarkanku kemandirian.</p>
<p>Pada tahun 1996, aku masuk SD Negeri Mekarwangi, yang sekarang telah berganti nama menjadi SD Negeri Sindanghurip. Sekolah tersebut berlokasi sangat jauh dari rumah. Setiap hari, pulang pergi berjalan kaki melewati jalan desa berbatu, bahkan jalan setapak yang dikelilingi dengan sawah-sawah hijau. Tidak ada kelelahan dan patah semangat, karena pemandangan yang hijau, sawah-sawah yang terhampar luas, gunung-gunung yang tertancap kokoh, dan gemericik aliran air itulah yang membuatku tidak pernah merasa lelah.</p>
<p>Pada masa  SD, kegemaranku membaca buku-buku kecil yang berisi tetang kisah dan cerita tentang negeri antah berantah yang selalu dijual oleh pedagang di pinggir sekolah. Ketika pedagang itu tidak dating, aku selalu murung karena berbagai cerita tidak aku baca hari itu.</p>
<p>Pada masa SD, aku mengalami cinta monyet dengan teman sekelas. Lucu&#8230;ya sangat lucu, karena setiap kali ketemu pasti sembunyi. Dan aku pernah sembunyi selama satu jam di WC karena malu melihat si dia. Cinta monyet itu tumbuh ketika teman-teman sekelas selalu menjodoh-jodohkan antara aku dengan si dia, dan akhirnya ketika aku bertemu dengannya aku selalu merasa malu.</p>
<p>Prestasi belajar di SD sangat baik. Aku selalu masuk rangking 1-3. Pada tahun 2001, aku melanjutkan sekolah ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Cipeundeuy. Lokasi sekolah tersebut lima kilo meter dari rumah. Namun canda dan tawa teman-teman sedesa yang satu sekolah membuat aku selalu semangat untuk pergi ke sekolah. Ketika ada tugas akhir di sekolah yang harus diketik, maka aku selalu kebingungan. Pada waktu itu keluargaku tidak mempunyai mesin tik, makanya aku selalu mengerjakan tugas di rumahnya sekretaris desa karena rumahnya dekat.</p>
<p>Walaupun komunikasi dengan ayah sangat jarang,  tapi ayah selalu memberikan semangat lewat surat yang ayah titipkan lewat pos. Karena pada saat itu HP di desa belum ada. Walaupun ada, signalnya yang tidak ada. Ayahanda sering mengatakan betapa penting mencari ilmu dan belajar mandiri. Jangan manja. Prestasi di MTsN selalu masuk rangking 1-3. Namun pernah di kelas 3 semester II aku mendapat rangking 4.</p>
<p>Aktivitas pramuka terus berlanjut. Bahkan ketika kelas 2, aktif pula di Paskibra dan Osis. Sementara itu, kadang-kadang membawa juga barang dagangan. Aku menjajakkan dagangan tersebut kepada teman-teman di kelas.</p>
<p>Dalam aktivitas ekstra-kurikuler, aku sering menjabat sebagai sekretaris dan bendahara. Pengalaman yang buruk ketika aku di MTsN, pernah datang terlambat dan mendapat hukuman dari guru bahasa Indonesia karena bangun kesiangan dan cukup berat untuk melewati perjalanan beberapa kilometer. Meskikpun demikian aku lulus dengan gemilang dan mendapatkan penghargaan karena mendapatkan NEM tertinggi di sekolah</p>
<p>Aku melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 1 Talaga, berkisar 40 kilometer dari rumah. Aku kost di rumah saudara. Aku biasanya berjalan kaki selama 30 menit ke sekolah. Seminggu sekali pulang ke rumah menumpang bis antarkota. Namun aku sekolah di SMAN 1 Talaga tidak tahan lama, hanya sebulan lamanya.</p>
<p>Aku pindah sekolah yang dekat dengan rumah, SMA Negeri 1 Bantarujeg. Dan orang tua sedikit kurang setuju dengan perpindahantersebut. Namun karena sifat manjaku yang tidak mau jauh dari orang tua masih melekat dalam diriku, maka ibu dan ayah mengizinkan.</p>
<p>Aku aktif di Rohis, MPK, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Meskipun demikian prestasi belajar sangat baik. Rangkingku naik turun 1-3. peringkat tidak stabil karena faktor fubertas dan juga persaingan ketat di kelas. Aku dalam kapasitas sebagai sekretaris di kelas, mengatur semua perangkat kelas, menghubungi guru dan mencatat semua kegiatan kelas. Selain itu, aku bersama beberapa teman sekelas mengikuti kursus komputer yang jaraknya tidak jauh dari sekolah.</p>
<p>Kenakalan terjadi ketika aku duduk di kelas 2 SMA. Setiap pulang sekolah selalu main dengan teman-teman sekelas yang mayoritas adalah laki-laki. Amanah orang tua untuk membawa kendaraan ke sekolah pun menjadi masalah karena hobi setelah pulang sekolah adalah balapan motor dengan teman-teman gank. Setiap hari celotehan dari orang tua selalu singgah di telinga dan setiap hari juga hukuman dari orang tua selalu aku dapatkan.</p>
<p>Walaupun sebegitu nakalnya aku, namun tidak pernah lupa belajar di malam hari atau di pagi hari agar pada saat ujian tidak menggunakan sistem kebut semalam (SKS) yang sangat dilarang oleh guru dan itu membuat stress. Aku pernah tidak mendapatkan rangking, tepatnya dikelas dua semester I. Orang tua sangat marah, dan selama seminggu aku dikurung di dalam kamar. Semangat untuk menaikan prestasi sangat menggebu, sehingga dikelas 3 aku mendapat prestasi yang sangat luar biasa dan aku mendapat beasiswa, juga bebas SPP selama setahun.</p>
<p>Kebahagiaan itu pun ada pada wajah orang tua aku ketika aku mendapatkan jati diriku kembali. Singkat kata, aku mendaftarkan diri unutk kuliah di UIN SGD BDG dengan pilihan pertama adalah Pendidikan Bahasa Inggris dan pilihan kedua Pendiddikan Bahasa Arab. Namun sangat mengecewakan karena aku tidak masuk pada pilihan keduanya. Akhirnya aku masuk di pilihan ketiga, yaitu KPI.</p>
<p>Semasa aku kuliah di UIN, aku tinggal di asrama Putri Intan Pusaka. Namun setahun kemudian aku pindah asrama ke Lestari dua. Komunitas berisi mahasiswa beraneka latar belakang, tabiat, dan budaya. Aku memperoleh topangan hidup dari orang tua meskipun jumlahnya tidak pernah di batasi. Selama aku kuliah tidak pernah terlepas untuk selalu mengatur jadwal setiap hari dan mencoba untuk disiplin. Peraturan dikamar pun diberlakukan. Tujuan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang telah aku rencanakan dan aku buat serta kutempel di dinding.</p>
<p>Di kampus, aku mengikuti tiga organisasi kemahasiswaan, diantaranya LDM, KAMMI, dan PUI. Di LDM aku menjabat sebagai sekretaris departemen syiar dakwah; di KAMMI aku menjabat sebagai staff Badan Ekonomi Keuangan (BEK); dan di PUI aku menjabat sebagai staff kaderisasi. Meskipun demikian belajar dan pergi ke perpustakaan tak pernah aku lupakan. Pada semester I, aku mendapat IP 3,86 dan semester dua IP aku berkisar 3,7, dan itupun diperkirakan karena nilai belum keluar semua.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopinet.info/selamat-tinggal-masa-nakal/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dari “Ciuman Pertama” sampai “Kehabisan Kata-kata”</title>
		<link>http://kopinet.info/dari-%e2%80%9cciuman-pertama%e2%80%9d-sampai-%e2%80%9ckehabisan-kata-kata%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://kopinet.info/dari-%e2%80%9cciuman-pertama%e2%80%9d-sampai-%e2%80%9ckehabisan-kata-kata%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 22:05:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suzi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The Memories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopinet.info/?p=406</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Kecil DIANA JAMILAH

Pernah mengalami kejadian yang memalukan dan tidak akan pernah ku lupakan. Yaitu ketika aku dan teman-teman sedang asik bermain, saling berkejaran alias bermain kucing-kucingan. Saat itu, aku tidak melihat jika ada seorang anak laki-laki yang sedang berlari ke arahku, dan akupun tidak bisa menghentikan lariku kerena lantai yang licin. Tabrakan antara aku dan anak laki-laki itu tidak bisa dihindari. Sungguh tidak disangka, aku dan anak laki-laki itu saling bertabrakan... bibir. Ya ampun, aku malu sekali, karena teman-teman menertawakanku. Mungkin bisa dibilang itulah "ciuman" pertamaku. Setelah kejadian, itu aku tidak masuk sekolah selama satu minggu karena tidak tahan mananggung rasa malu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p>Catatan Kecil DIANA JAMILAH</p>
<p>&#8220;Di kesunyian malam saat sebagian makhluk tertidur lelap. Rabu, 23 Agustus 1989, pukul 03.00 Wibb, terlahirlah bayi mungil nan lucu dari rahim seorang ibu yang telah berjuang antara hidup dan mati. Diana Jamilah, nama yang diberikan oleh orang tuanya kepada anak ketiga tersebut. Ia tumbuh dengan kasih sayang orang tuanya.&#8221; Mungkin, seperti itulah gambaran kelahiranku, berdasarkan cerita orangtua dan kehidupan yang kurasakan sejak aku mampu untuk mengingatnya..</p>
<p>**</p>
<p>Ketika usiaku empat tahun, aku sekolah di Taman Kanak-kanak (TK) yang letaknya tidak jauh dari rumah. Setiap hari aku selalu diantar sekolah oleh ibu. Di lingkungan sekolah, aku termasuk anak yang selalu ceria, aktif dan kreatif. Begitulah menurut guru dan teman-temanku.</p>
<p>Hari kenaikan kelas telah tiba, dan aku melanjutkannya ke Sekolah Dasar (SD) yang letaknya sedikit jauh dari rumahku. Ketika kelas III SD, aku pindah sekolah karena pekerjaan ayah berpindah. Aku menjadi seorang murid baru di sekolah yang masih asing. Aku sering dijahili oleh teman-temanku.</p>
<p>Pernah mengalami kejadian yang memalukan dan tidak akan pernah ku lupakan. Yaitu ketika aku dan teman-teman sedang asik bermain, saling berkejaran alias bermain kucing-kucingan. Saat itu, aku tidak melihat jika ada seorang anak laki-laki yang sedang berlari ke arahku, dan akupun tidak bisa menghentikan lariku kerena lantai yang licin. Tabrakan antara aku dan anak laki-laki itu tidak bisa dihindari. Sungguh tidak disangka, aku dan anak laki-laki itu saling bertabrakan&#8230; bibir. Ya ampun, aku malu sekali, karena teman-teman menertawakanku. Mungkin bisa dibilang itulah &#8220;ciuman&#8221; pertamaku. Setelah kejadian, itu aku tidak masuk sekolah selama satu minggu karena tidak tahan mananggung rasa malu.</p>
<p>Setelah satu minggu tidak masuk sekolah, akhirnya aku masuk sekolah lagi seperti biasa. Aku mencoba melupakan kejadian yang menimpaku. Suatu saat, ketika aku sedang beristirahat di kantin sekolah, tidak disangka aku bertemu dengan anak laki-laki itu. Aku kesal, benci, dan marah pada anak laki-laki itu. Ia bernama Arif, anak kelas VI. Waktu itu, ia menghampiriku dan meminta maaf atas &#8220;ciuman&#8221; yang tidak disengaja itu. Tapi saat itu aku belum bisa memaafkannya. Maklumlah, aku masih anak ingusan.</p>
<p>Mungkin itulah kejadian yang tidak bisa aku lupakan ketika aku masih duduk di SD. Kalau mengingatnya, membuat perasaan bercampur, antara merasa lucu dan kesal&#8230; ha ha ha ^_@</p>
<p>**</p>
<p>Hari pertama masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aku masih mengenakan pakaian SD, karena masa orientasi siswa alias MOS. Ternyata keadaan di SMP berbeda dengan di SD. Tentu, baju yang dulunya merah-putih menjadi biru putih. Dan yang dulunya di sekitarku hanya anak kecil ingusan, kini menjadi anak remaja yang sudah mengenal&#8230; pacaran.</p>
<p>Hari pertama MOS saja aku sudah dikerjain oleh kakak kelasku. Waktu itu, kakak kelas menyuruhku untuk membawa setangkai bunga dan harus diberikan kepada kakak kelas  dan menyatakan cinta kepadanya di hadapan orang banyak. Lagi-lagi hal yang memalukan menimpaku. Kakak kelasku itu tidak mau menerima bunga dan pernyataan cintaku. Dia bersekongkol dengan kakak kelas lainnya untuk mempermalukanku di depan orang banyak. Antara malu, kesal, marah, dan lain sebagainya berbaur dalam dadaku.</p>
<p>Hari pertama belajar di SMP cukup menyenangkan, karena mendapatkan pelajaran baru, seragam baru, teman baru, dan tak lupa&#8230; pacar baru. Ketika aku masih kelas I, tak disangka kakak kelas yang waktu dulu mempermalukanku di hadapan orang banyak, tiba-tiba mendatangi kelasku. Ia mengatakan bahwa sepulang sekolah ingin mengantarku pulang. Tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara, dia langsung pergi. Aku penasaran, apa maksudnya mau mengantarku pulang.</p>
<p>Bel pulang sekolah pun telah berbunyi. Kakak kelas yang tadi telah menunggu di gerbang sekolah. Aku berjalan dengan cepat sambil menundukkan kepala dan berpura-pura tidak melihatnya. Tapi apa yang terjadi, dia&#8230; menarik tanganku. Akhirnya aku memutuskan diantar pulang oleh kakak kelaskku itu. Namanya Andri, anak kelas II. Andri meminta maaf kepadaku atas kejadian semasa orientasi siswa. Aku sudah memakluminya akan kejadian itu, sehingga akupun memaafkannya. Kami pun menjadi teman baik.</p>
<p>Mungkin dari pertemanan itu, timbulah rasa suka, yang selanjutnya main hati. Karena pada waktu itu belum ada telepon genggam alias Hp, kami saling berkirim surat. Isinya saling mengungkapkan perasaan masing-masing. Dari situ, kami menjadi sepasang kekasih. Tapi&#8230; akhirnya putus. Pasalnya, setelah dia menuntaskan SMP dan melanjutkan ke SMA, kami jarang berkomunikasi alias discommunication. Ya, tapi itulah kisah-kasihku di SMP.</p>
<p>Setelah tiga tahun belajar di SMP, aku pun melanjutkannya ke SMA. Bagiku, inilah pengalaman sekolah yang paling berkesan. Di sekolah, aku memiliki beberapa orang teman. Diantaranya Winie, Yusi, Susi, Rima, dan si kembar Martina-Martini. Kemana-mana, kami hampir selalu bersama. Kami menamai group-atau zaman sekarang disebut <em>gank</em>, dengan nama CT singkatan dari <em>chirs tiger</em>. Kami pun tidak tahu apa artinya. Mungkin pada saat itu, kami asal membuat saja. <em>Gank </em>kami di sekolah cukup dikenal oleh teman-teman dan guru. Tapi bukan karena terkenal dengan kenakalannya seperti anak gank nero yang ada di Jawa Tengah, melainkan terkenal dengan keaktifan kami di sekolah.</p>
<p>Pertemanan kami pun tidak selalu rukun. Sebab, ada sifat salah satu teman kami yang tidak disukai. Aku dan kelima temanku tidak menyukainya, karena selain sombong, dia juga suka mengadu domba. Pernah kami dimarahi oleh walikelas karena pengaduannya yang tidak jelas. Karena kami marah atas prilakunya, akhirnya kami memutuskan agar dia dikeluarkan dari gank CT. tapi dia menyadari kesalahannya, dan aku merasa kasihan melihatnya.</p>
<p>Setelah dia menyadari kesalahannya, pertemanan kami pun menjadi rukun seperti semula. Tapi teman-temanku seperti menjaga jarak dengannya. Mungkin mereka kapok berteman dengannya.</p>
<p>Tanpa terasa, tiga tahun sudah kami menjalani kebersamaan di SMA. Kami terpisah oleh jarak, ruang, dan waktu. Tapi mungkin itu hanya ungkapan saja. Meskipun kami terpisah, tapi kami selalu mengadakan reuni. Jadi, kami bisa berkumpul kapan pun kami mau.</p>
<p>Masa-masa SMA telah dilalui. Sekarang saatnya melanjutkan ke perguruan tinggi. Aku kuliah di salahsatu universitas negeri di Bandung, Universitas Islam Negeri (UIN) SGD Bandung. Disinilah aku mulai mencari jati diri. Aku mengambil jurusan Komunikasi Penyiaran Islam atau KPI yang ada di Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Sebenarnya aku tidak tahu, apa alasan ku mengambil jurusan ini.</p>
<p>Ternyata sangat berbeda antara sekolah yang harus mengenakan pakaian seragam dengan kuliah yang bebas mengenakan pakaian apa saja. Selain itu, asalnya aku yang kemana-mana selalu bersama teman-teman. Kini aku hanya sendirian. Rasanya sedih jika aku tudak memiliki teman. Tapi&#8230; mungkin ini baru permulaan. Pada masa ospek, aku mencoba beradaptasi dengan orang-orang disekitarku. Sebenarnya aku termasuk orang yang sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Tapi apa boleh buat, mungkin jika aku tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, aku tidak akan memiliki teman.</p>
<p>Hari pertama belajar di kampus UIN telah dimulai. Pada saat itu, aku belum memiliki teman dekat. Untunglah ada teman sekelasku yang pada saat itu &#8220;SKSD&#8221; alias So Kenal So Dekat. Tapi aku senang, karena dia mau menjadi teman ku. Teman ku itu berinisial F.A (aku tidak mau menyebutkan namanya karena alasan tertentu). Kemana-mana, kami selalu bersama. Jika diantara kami tidak ada yang masuk kuliah, kami merasa kehilangan.</p>
<p>Entah ada angin apa, pertemanan aku dengan F.A kini mulai renggang. Pada waktu itu dia seakan membenciku dan mungkin saja menganggapku musuh. Aku tidak tahu, apa yang terjadi dengannya. Misalnya, jika aku bertemu dengannya di kelas, dia seperti menganggapku tidak ada.</p>
<p>Meskipun sikapnya kepadaku seperti itu, tapi aku tetap menganggapnya teman. Hari demi hari, dia semakin menjauhiku. Sebenarnya, di lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasa sedih sekali melihat sikap F.A yang seperti itu. Sampai saat ini pertemananku dengan F.A belum membaik.</p>
<p>Sepertinya aku sudah kehabisan kata-kata. Jadi, sekian saja dulu cerita dari Diana. Mulai terlahir ke dunia hingga detik ini yang telah tumbuh menjadi seorang remaja.***</p>
<p><em>Diana Jamilah, Mahasiswi Jurusan KPI, UIN SGD</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopinet.info/dari-%e2%80%9cciuman-pertama%e2%80%9d-sampai-%e2%80%9ckehabisan-kata-kata%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>UAS Mata Kuliah Pengantar Ilmu Jurnalistik, KPI III/A</title>
		<link>http://kopinet.info/uas-mata-kuliah-pengantar-ilmu-jurnalistik-kpi-iiia/</link>
		<comments>http://kopinet.info/uas-mata-kuliah-pengantar-ilmu-jurnalistik-kpi-iiia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 21:33:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suzi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sajian Mata Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopinet.info/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[Wawancarailah seorang tokoh dengan mempraktikan teknik wawancara yang telah dipelajari selama kuliah. Tema wawancara ditekankan pada proses kreatif narasumber (nama tokoh yang harus diwawancara dilampirkan). Wawancara harus dilakukan langsung bertatap muka, minta tandatangannya, lebih baik kalau melampirkan poto narasumber. Selanjutnya tulislah hasil wawancara tersebut menjadi sebuah biografi singkat (semi biografi).

Ketentuan-ketentuan:

    * Panjang tulisan minimal 5 halaman, 2 spasi, menggunakan font Time New Roman, dengan ukuran kertas A 4;
    * Dikumpulkan dalam dua bentuk, print out dan file melalui e-mail, dengan alamat: senisunda@yahoo.com atau dhipagaluh@yahoo.com
    * Paling lambat dikumpulkan pada 3 Januari 2009, pukul 12.00 Wibb, di ruang Jurusan KPI, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD.


Lampiran:

   1. Ade Abdul Syukur (mewawancarai Purwana Yodaswara, penyiar Radio Antassalam FM)
   2. Ade Irawan (mewawancarai Etty RS, pengarang Sunda)
   3. Ade Kamaludin Adnan (mewawancarai Chye Retty Isnendes, sastrawati))
   4. Ade Susilawati (mewawancarai Agus Ahmad Safe'i, penulis)
   5. Ahmad Faisal (mewawancarai Vidia Iswari, penari Sunda)
   6. Adjie M. Nur (mewawancarai Titiek Pradita, penyiar Radio Shinta FM)
   7. Andi Rahmat Fauzi (mewawancarai Rosa, penyanyi pop Sunda dan penyiar Radio Shinta FM)
   8. Andri Hardiansyah (mewawancarai Lia Refani, penyanyi pop Sunda dan penyiar Radio Antassalam FM)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p>Wawancarailah seorang tokoh dengan mempraktikan teknik wawancara yang telah dipelajari selama kuliah. Tema wawancara ditekankan pada proses kreatif narasumber (nama tokoh yang harus diwawancara dilampirkan). Wawancara harus dilakukan langsung bertatap muka, minta tandatangannya, lebih baik kalau melampirkan poto narasumber. Selanjutnya tulislah hasil wawancara tersebut menjadi sebuah biografi singkat (semi biografi).</p>
<p><strong>Ketentuan-ketentuan</strong>:</p>
<ul type="disc">
<li>Panjang      tulisan <strong>minimal</strong> 5 halaman, 2      spasi, menggunakan font Time New Roman, dengan ukuran kertas A 4;</li>
<li>Dikumpulkan dalam dua bentuk, print out dan file      melalui e-mail, dengan alamat: senisunda@yahoo.com atau      dhipagaluh@yahoo.com</li>
<li>Paling lambat dikumpulkan pada 3 Januari 2009,      pukul 12.00 Wibb, di ruang Jurusan KPI, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN      SGD.</li>
</ul>
<p>Lampiran:</p>
<ol type="1">
<li>Ade Abdul Syukur (mewawancarai Purwana Yodaswara, penyiar      Radio Antassalam FM)</li>
<li>Ade Irawan (mewawancarai Etty RS, pengarang Sunda)</li>
<li>Ade Kamaludin Adnan (mewawancarai Chye Retty Isnendes,      sastrawati))</li>
<li>Ade Susilawati (mewawancarai Agus Ahmad Safe&#8217;i, penulis)</li>
<li>Ahmad Faisal (mewawancarai Vidia Iswari, penari      Sunda)</li>
<li>Adjie M. Nur (mewawancarai Titiek Pradita, penyiar      Radio Shinta FM)</li>
<li>Andi Rahmat Fauzi (mewawancarai Rosa,      penyanyi pop Sunda dan penyiar Radio Shinta FM)</li>
<li>Andri Hardiansyah (mewawancarai Lia Refani,      penyanyi pop Sunda dan penyiar Radio Antassalam FM)</li>
<li>Annisa Farida (mewawancarai Kang Komeng, penyiar      Radio Shinta FM)</li>
<li>Annisa Hurul Aini (mewawancarai Dian Hendrayana,      presenter Bandung TV)</li>
<li>Cahyadinata (mewawancarai Siska, presenter PJTV)</li>
<li>Cecep Muhamad Anwar (mewawancarai Riska Prorina, penyanyi      pop Sunda)</li>
<li>Cucu Tri Lestari (mewawancarai Miftahul Malik,      Redaktur KSM Galura)</li>
<li>Dani Firmansyah (mewawancarai Erwan Juhara,      penulis)</li>
<li>Dani Ramdani (mewawancarai Mutia, penyiar Radio      Antassalam FM)</li>
<li>Deden Hendrik (mewawancarai Putri, wartawati kantor      berita Antara)</li>
<li>Dian Virmansyah (mewawancarai Enci, presenter      Bandung TV)</li>
<li>Diana Jamilah (mewawancarai Dede Kosasih, penulis)</li>
<li>Dina Ferinda (mewawancarai H. Dodi Mansyur,      penyanyi pop Sunda)</li>
<li>Dini Julian R (mewawancarai Lilih Tarliah, penyanyi      pop Sunda)</li>
<li>Egi Septian Effendi (mewawancarai Wina Juliana,      penyanyi pop Sunda)</li>
<li>Elsa Dewiyana (mewawancarai Hawe Setiawan, Pemimpin      Redaksi Majalah Cupumanik)</li>
<li>Epi Hanapiah (mewawancarai Soeria Disastra, penulis)</li>
<li>Fajar Burnama (mewawancarai Asep Syamsul M. Romli,      penulis, penyiar radio Shinta FM, Pimred Majalah Bina Da&#8217;wah)</li>
<li>Faqih Sopiah (Mewawancarai Loegiena Dea, penulis,      pengarang Sunda)</li>
<li>Fenty Effendi (mewawancarai Azis Manyar, penyiar      Radio Shinta FM)</li>
<li>Ferayani (mewawancarai Rochajat Harun, penulis)</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Dosen/ Asisten:</strong></p>
<p align="center"><strong>Drs. Enjang AS., M.Ag., M.Si</strong></p>
<p align="center"><strong>M. Sudama, S.Sos</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopinet.info/uas-mata-kuliah-pengantar-ilmu-jurnalistik-kpi-iiia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>UTS Mata Kuliah Pengantar Ilmu Jurnalistik, KPI III/A</title>
		<link>http://kopinet.info/uts-mata-kuliah-pengantar-ilmu-jurnalistik-kpi-iiia/</link>
		<comments>http://kopinet.info/uts-mata-kuliah-pengantar-ilmu-jurnalistik-kpi-iiia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Dec 2008 21:30:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suzi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sajian Mata Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopinet.info/?p=402</guid>
		<description><![CDATA[Membuat contoh straight news, dengan memperhatikan judul, struktur, kandungan nilai berita, unsur  dan syarat berita.

Berikut ini nama mahasiswa yang mengikuti UTS, judul berita yang ditulis, dan nilainya.

   1. Ade Abdul Syukur: Istri Kedua Terbunuh Dengan Tangan Terpotong (B-)
   2. Ade Irawan: Bandar Judi Togel Dipretel (B)
   3. Ade Kamaludin: Niat Pulang ke Rumah Malah Pulang ke Dalam Tanah (A-)
   4. Ade Susilawati: Kakek Bunuh Guru SMP (A)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p>Membuat contoh <em>straight news, </em>dengan memperhatikan judul, struktur, kandungan nilai berita, unsur  dan syarat berita.</p>
<p>Berikut ini nama mahasiswa yang mengikuti UTS, judul berita yang ditulis, dan nilainya.</p>
<ol type="1">
<li>Ade Abdul Syukur: Istri Kedua Terbunuh Dengan      Tangan Terpotong (B-)</li>
<li>Ade Irawan: Bandar Judi Togel Dipretel (B)</li>
<li>Ade Kamaludin: Niat Pulang ke Rumah Malah      Pulang ke Dalam Tanah (A-)</li>
<li>Ade Susilawati: Kakek Bunuh Guru SMP (A)</li>
<li>Ahmad Faisal: Zupri Bolos dari Pendidikan      Tembok Derita (B-)</li>
<li>Aji M. Nur: 10 PSK Terjaring Razia (B-)</li>
<li>Andi Rahmat Fauzi: Media Massa VS LSM (B-)</li>
<li>Andri Hardiansyah (Belum mengumpulkan)</li>
<li>Annisa Farida: Karena Kepopuleran, Al-Qur-an      Jadi Korban (A)</li>
<li>Annisa Hurul Aini (Belum mengumpulkan)</li>
<li>Cahyadinata: Seucap Janji Triliunan rupiah      Lenyap (B-)</li>
<li>Cecep Muhamad Anwar: Penipuan Berkedok      Investasi (B)</li>
<li>Cucu Tri Lestari: Ustad Memperkosa Murid      Didikannya (A-)</li>
<li>Dani Firmansyah: Penyerangan LSM Cahaya ke      Media Masa Cetak (B-)</li>
<li>Dani Ramdani (Belum mengumpulkan)</li>
<li>Deden Hendrik: Para PSK Kebanyakan Dari Peloksok (B-)</li>
<li>Dian Virmansyah: Gembong Judi Togel Diciduk      Polisi (B)</li>
<li>Diana Jamilah: Ayah Tega Memperkosa Anak      Kandung (A)</li>
<li>Dina Ferinda: Si jago Merah Melahap Pasar      (B-)</li>
<li>Dini Julian R: Si Jago Merah Menguasai Sekolah      (B)</li>
<li>Egi Septiana: Tawuran Warga (B-)</li>
<li>Elsa Dewiyana: Tabrakan Maut (B-)</li>
<li>Evi Hanafiah: Mahasiswa Ikutan Korupsi (A-)</li>
<li>Fajar Burnama: Korupsi Masuk desa (A)</li>
<li>Faqih Shopiah: Paramitha Rusady Cari Sensasi      (B)</li>
<li>Fenti Efendi: Retaknya Rumah Tangga di      Kalangan Artis (B)</li>
<li>Ferayani: Tewas Berlumuran Darah Diakibatkan      Tawuran yang Sepele (B)</li>
</ol>
<p align="center"><strong>Dosen/ Asisten:</strong></p>
<p align="center"><strong>Drs. Enjang AS., M.Ag., M.Si</strong></p>
<p align="center"><strong>M. Sudama, S.Sos</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopinet.info/uts-mata-kuliah-pengantar-ilmu-jurnalistik-kpi-iiia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Disini Ada Cinta</title>
		<link>http://kopinet.info/disini-ada-cinta/</link>
		<comments>http://kopinet.info/disini-ada-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 19:21:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suzi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The Memories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopinet.info/?p=400</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Kecil ANDRI “HASAN” HARDIANSYAH

Seminggu di Al-falah, masih belum bisa beradaptasi dengan pola hidup disana. Betapa tidak, aku harus merelakan untuk mengurangi waktu tidur. Biasanya aku bangun ketika matahari tengah terasa hangat di kulit, tetapi disana sekitar jam 3 subuh pengurus pesantren kerap kali membangunkanku dengan suaranya yang lantang. Jika tidak bangun, pukulan rotan pun biasa melayang ke kakiku, maka tak ayal dengan terpaksa rasa kantuk pun aku hadapi. Tidak hanya itu, untuk urusan makan nampaknya aku pun harus bersabar. Pasalnya untuk urusan makan saja aku  harus mengantri di dapur umum. Begitu pula untuk urusan mandi, mencuci pakaian, terlebih untuk urusan buang hajat. Tapi  seiring berjalannya waktu kusadari bahwa  hal tersebut sudah menjadi bagian dari hidup seorang santri yang hikmahnya menanamkan sikap disiplin serta mendidik diri untuk hidup prihatin.  ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p><strong>Catatan Kecil ANDRI &#8220;HASAN&#8221; HARDIANSYAH</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Namaku Andri Hardiansyah. Nama ini merupakan pemberian papaku (ayahanda). Mulanya kakek menawarkan nama Aan Hardian, tetapi kemudian ayah menggantinya dengan Andri Hardiansyah. Tanpa ada perdebatan sengit, kakek serta papa setuju nama tersebut disandang olehku.</p>
<p>Secara lengkap, diriku tidak begitu hafal nasab dari mama atau papaku. Nasab dari mamaku Elly Harnelly  yaitu H. Iyon Taryana (alm) asal Tasikmalaya dan Hj.  Rochaeni Baafi asal Soreang, Kab. Bandung. Sedangkan nasab dari papaku Undang Suryana, yaitu Hj. Siti Khadijah (almh) dan H. Abdullah (alm) asal Limbangan, Garut.</p>
<p>Jika memperhatikan wajahku, banyak orang menilaiku berasal dari keturunan Arab. Aku tidak memungkirinya, pasalnya nenek dari mama bemarga Baafi, tetapi marga Bafi ini tidak dapat turun jika dibawa oleh perempuan seperti halnya marga keturunan Arab lainnya seperti Sungkar, Fuad, Assegaf, al-Juffry dan lain sebagainya.</p>
<p>Papaku, Undang, berasal dari daerah Limbangan Garut. Beliau seorang pedagang es balok yang dapat ditemui dibelakang Puskesmas Limbangan, persis di pinggir jalan ke arah Cibiuk dan Cijapati. Awalnya beliau tinggal di Tangerang, tetapi tak kuasa menghadapi hantaman krisis ekonomi tahun 97-an lalu, kemudian berpindah dan menetap di Limbangan.</p>
<p>Bertempat di rumah sakit Ranca Badak (RSHS) Bandung, aku  dilahirkan  pada tanggal 23 Oktober 1983. Pada tahun itu pula, saudara kembarku Fulan  wafat ketika dilahirkan, sehingga sampai saat ini aku termasuk salah satu  anak yang selalu dimanja oleh ibu, karena mamaku berpikir jika tidak saudara kembarku mungkin aku yang wafat pada waktu itu.</p>
<p>Nasib yang kurang mujur telah kualami sejak  berumur empat tahun. Mama dan papa harus bercerai dan aku  terpaksa dibawa mama ke Bandung  dan berbaur dengan kakek dan nenek yang tengah menikmati kejayaannya sebagai pedagang daging kambing di Pasar Baru Bandung. Ketika berumur 7 tahun, mama yang saat itu <em>single parent </em>berusia 24 tahun khawatir akan masa depanku menjadi suram. Lalu mulai memperhatikan pendidikanku. Pada saat itu, aku di daftarkan di TK Assalaam yang dirintis oleh ulama NU ternama Habib Ustman Al-Aydarus di kawasan Sasak Gantung Bandung.</p>
<p>Dengan berprofesi musiman sebagai seorang perias pengantin, Sinden siraman penikahan, bahkan mama rela menjadi seorang penari jaipongan demi membiayai aku sekolah, dengan profesi yang dijalaninya Alhamdulillah mama mampu membiayai pendidikanku ke tingkat SD di Yayasan pendidikan yang sama dengan TK.</p>
<p>Di SD Assalaam, aku termasuk siswa yang aktif. Sejak kelas empat, aku sudah aktif di Pasukan Pengkibar Bendera (Paskibra), dan selalu dijadikan pemimpin upacara karena suaraku yang terbilang lantang dan keras. Kendatipun aktif dan jam belajar selalu terganggu, tetapi prestasiku  di kelas selalu aku perhatikan. Saat itu  peringkat yang tertera di raporku tidak pernah melebihi dua digit angka. Atas prestasi yang kuraih,  aku mendapatakan beasiswa gratis SPP dari kelas empat hingga kelas enam, bahkan aku sempat menjadi wakil SD untuk menjadi wakil seleksi siswa teladan se-kota Bandung, bersama 4 temanku yang lainnya. Namun karena persiapan yang kurang matang, aku gagal di seleksi tingkat kecamatan.</p>
<p><strong>PESANTREN MENDIDIK HIDUP MADIRI DAN PRIHATIN </strong></p>
<p>Pertumbuhan dan pengembaraanku mencari ilmu ternyata difokuskan mamaku untuk mendalami ilmu agama. Mama khawatir kelak aku terjerumus kepada kebathilan, sehingga aku didaftarkan ke Pontren Al-Qur&#8217;an Al-falah, Cicalengka. Selain mengenyam pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs), aku pun menjadi santri mukim disana. Banyak hal yang aku dapatkan di kota santri tersebut, dari mulai mendalami ilmu agama, pengalam berorganisasi  hingga urusan asmara.</p>
<p>Seminggu di Al-falah, masih belum bisa beradaptasi dengan pola hidup disana. Betapa tidak, aku harus merelakan untuk mengurangi waktu tidur. Biasanya aku bangun ketika matahari tengah terasa hangat di kulit, tetapi disana sekitar jam 3 subuh pengurus pesantren kerap kali membangunkanku dengan suaranya yang lantang. Jika tidak bangun, pukulan rotan pun biasa melayang ke kakiku, maka tak ayal dengan terpaksa rasa kantuk pun aku hadapi. Tidak hanya itu, untuk urusan makan nampaknya aku pun harus bersabar. Pasalnya untuk urusan makan saja aku  harus mengantri di dapur umum. Begitu pula untuk urusan mandi, mencuci pakaian, terlebih untuk urusan buang hajat. Tapi  seiring berjalannya waktu kusadari bahwa  hal tersebut sudah menjadi bagian dari hidup seorang santri yang hikmahnya menanamkan sikap disiplin serta mendidik diri untuk hidup prihatin.</p>
<p>Seperti halnya lingkungan pesantren pada umumnya, Asatidz di pesantren  mendidik santrinya dengan keras. Meskipun terkadang merasa bahwa kekerasan itu berlebihan, tetapi secara keseluruhan aku berterima kasih kepada asatidz yang telah mendidik saya dengan cara yang sangat keras. Bahkan  terkadang militeristik.</p>
<p>Salah satu didikan penting yang saya peroleh dari asatidz di Al-falah adalah di bidang membaca Al-qur-an. Pesantren ini dikenal sebagai pesantren yang memiliki keahlian lebih di bidang ini. Kitab  dasar yang saya pelajari dulu  berjenjang, mulai dari <em>hidayatushibyan</em>, <em>hidayatul mustafid</em>, dan <em>jazariyyah</em>. Itu adalah teks klasik standar yang dipelajari santri-santri di bidang Al-qur-an.</p>
<p>Alqur-an memiliki tata cara membaca yang rumitnya mungkin sama atau malah melebihi bahasa Latin. Didikan yang keras di bidang Al-qur-aan dari asatidz di pesantren ini meninggalkan bekas penting pada diri saya, yakni disiplin dalam berpikir dan cermat dalam membaca Al-qur-an. Karena didikan itu pula saya memiliki kecintaan yang mendalam pada Al-qur-an. Semula tentu saya hanya mencintai Al-qur-an, sebab Al-qur-an itulah yang pertama kali diajarkan secara sistematis dan &#8220;ilmiah&#8221; di pesantren Al-falah.</p>
<p><strong>CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA</strong></p>
<p>Hawa-hawa pubertas nampaknya sudah meraksuk kedalam hati, sehingga perasaan untuk mencintai seorang wanita pun tak bisa tertahankan. Walau terbilang berusia dini untuk puber, tapi pada waktu itu aku sudah terpesona oleh kecantikan Rani nurhayati, santri putri asal Cibuntu, Bandung. Nampaknya aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Awal aku jumpa dengannya di sekretariat pesantren, dia tersenyum kepadaku, aku jadi terpanah asmara, ingin aku katakan bahwa aku mencintainya, hanya dirinya yang aku suka, hanya bayangan wajahnya yang selalu ku ingat, tak kuasa kumenahan gejolak di dalam dada hingga aku sangat terpesona pada pandangan pertama, hatiku pun bertanya-tanya: inikah yang dinamakan jatuh cinta? Betapa indahnya. Ingin rasanya begini untuk selamanya.</p>
<p>Setelah itu, hari-hariku selalu ceria, dan aku selalu merindukannya di setiap saat. Jika tidak berjumpa dengannya, perasaanku selalu gelisah. Saat itu, kenapa perasaan cintaku begitu besar? Padahal sebelumnya perasaanku belum begitu tertarik kepada seorang perempuan. Namun gadis yang satu ini nampaknya beda. Hatiku begitu tertambat kepadanya. Betapa tidak, badannya yang tinggi semampai, alisnya yang berbentuk walaupun tidak diukir dengan silet, pipinya yang kemerahan dan berlesung. Aku yakin hanya laki-laki kurang normal yang tidak punya perasaan sama sekali kepadanya.</p>
<p><strong>CINTA DAPAT MENEMBUS SEGALA RUANG</strong></p>
<p>Ketertarikanku pada Rani terus berlanjut. Namun aku bingung bagaimana cara menyatakan cinta kepadanya. Jangankan menyatakan cinta, untuk mendekatinya pun sangat sulit. Maklum&#8230;. pergaulan antara santri putra dengan santri putri sangat dibatasi, seperti halnya untuk lingkungan asrama saja sudah terpisah. Begitu pula jika pengajian atau sekolah.</p>
<p>Tapi lambat laun aku mencari media yang aman untuk berkomunikasi dengannya tanpa melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan oleh pengasuh pesantren. Saat itu, aku mencoba mencari beberapa santri senior yang notabene dikenal mempunyai pasangan di asrama putri. Menurut gossip yang beredar, mereka biasa &#8220;memadu kasih&#8221; dengan pasangannya melalui surat. Aku pun berkonsultasi dengan para senior untuk meminta wejangan bercinta dari mereka. Dengan senang hati nampaknya, mereka memberikan beberapa trik agar surat cinta dapat sampai kepada sang pujaan hati.</p>
<p>Aku pun mencoba menjalankan apa yang telah mereka sarankan. Kucoba menulis untaian kata-kata manis diatas beberapa lembar kertas khusus untuk menulis surat cinta yang sengaja aku beli di toko buku yang berada di seputaran pasar Cicalengka. Sepucuk surat cinta yang aku tulis kukirimkan lewat mak comblang yang biasa membuka jalur komunikasi balada cinta senior-senior di Pesantren. Kegiatan ini pun berlangsung beberapa kali dengan mak comblang yang sama. Sesekali terpikirkan olehku untuk memberikan semacam imbalan kepada mak comblang atas beberapa surat yang diantarkan maupun surat balasan. Namun sungguh diluar dugaan, dia menolak. Mungkin dia menyadari Kehadiran cinta di mata manusia tidak dapat ditolak lagi.</p>
<p>Cinta adalah ruh manusia. Ruh yang menggerakan manusia untuk berkehendak, berkomunikasi, bertetangga, dan bahkan berhubungan. Maka jika ruh itu hilang, manusia tidak lagi dibimbing oleh kasih sayang. Sehingga manusia tersebut hanya dirasuki oleh hasutan Syetan, yakni kebencian, kesombongan, kedurhakaan dan lain-lain. Aku pun mengakui jika kebiasaan yang telak kulakukan  telah aku dobrak. Pesantren sebagai sub kultur budaya Indonesia yang mengajarkan ilmu-ilmu tentang agama yang menjadi ciri khas pesantren. Lembaga yang juga menyimpan tradisi hukum agama  yang begitu fanatik tentang pergaulan masih kental sampai sekarang. Bahkan beberapa kyai mengharamkan saling mengirimkan surat cinta sesama santri, karena mereka  menilai bercinta dengan saling menyurati adalah zina mutlak, karena memainkan emosi jiwa kedua pasangan diluar nikah untuk &#8220;berimajinasi&#8221;.</p>
<p>Salah satu hal tidak  pernah lupa. Hanya dengan beberapa surat cinta yang aku kirimkan kepada Rani, semua dibalas dengan kata-kata yang menunjukan bahwa dirinya mempunyai perasaan yang sama seperti halnya perasaanku. Interaksi cinta seperti ini terus aku jalani, hingga pada pertengahan tahun &#8216;98: aku dan Rani resmi berpacaran.</p>
<p>Saat itu, aku memberanikan diri untuk berkunjung ke rumahnya saat liburan tiba. Aku pun menyatakan cinta kepadanya. Dengan senyuman manis, Rani mengatakan: iya,  sebagai tanda menerima cintaku. Masa liburpun telah usai, maka otomatis peraturan pesantren pun kembali  membatasiku untuk bercengkrama dengan dirinya. Tapi itu bukan hambatan yang begitu hebat untuk menjegal  hubunganku dengannya. Pasalnya aku dan Rani sama-sama aktif di OSIS. Walaupun berbeda seksi, tetapi aku sering mendapatkan kesempatan untuk bercengkrama melepas rasa rindu dengannya, jika ada rapat atau kegiatan yang  digelar. Itupun dengan sembunyi-sembunyi atau ditemani teman OSIS yang lain agar para pengurus tidak curiga</p>
<p><strong>TATKALA CINTA MENJADI MOTIVASI</strong></p>
<p>Cinta bukanlah nafsu dan cinta bukanlah dosa yang dibebankan oleh Tuhan kepada manusia. Tapi, cinta adalah anugerah dan fitrah yang diberikan kepada setiap insan. Sebab tak ada ajaran mana pun yang melarang umatnya untuk saling mencintai dan menyayangi. Karena cintalah, umat manusia bisa hidup bersandingan dengan damai.</p>
<p>Banyak teori cinta yang aku rasakan, seperti halnya indikator cinta, seseorang tidak bisa dikatakan mencintai jika tidak didasari beberapa hal: cinta harus didasari perasaan memiliki kepada yang dicintainya; cinta harus didasari perasaan kagum atau bangga; cinta harus didasari perasaan rela berkorban. Namun hati-hati jika indikator cinta tersebut berlebihan maka akan menjadi nafsu yang menyesatkan. Sebab, menurut sahabatku, Aji,  batasan cinta dengan nafsu sangatlah tipis. Tapi jika kita mampu memenejnya, indikator tersebut dapat menjadi suatu motivasi. Misalnya, didorong oleh rasa cinta, seorang Ibu termotivasi untuk kuat mengandung sang calon anak selama sembilan bulan 10 hari. Didasari rasa cinta.</p>
<p>Dipupuk oleh rasa cinta pula, seorang anak sangat termotivasi untuk menyelesaikan gelar sarjana guna membahagiakan kedua orang tuanya. Begitu pula diriku saat itu, karena didorong dengan perasaan cinta, aku termasuk santri yang cukup rajin. Sebelum santri yang lain tiba (untuk melaksanakan sholat), aku datang lebih awal. Jika pengajian gabungan antara santri putra dan putri digelar, dengan sigapnya aku mempersiapkan perangkat pengajian. Begitu pula jika patrol (keja bakti) bersama hari Ahad dilaksanakann, pasti aku yang paling sibuk menggulung karpet masjid, membuka tirai dan bahkan mencucinya.</p>
<p>Tidak terlepas dari nilai-nilai keikhlasan, aku lakukan semua itu karena ingin bertatapan muka dengan sang kekasih, saling berkirim makanan ringan, atau berkirim surat cinta. Hal itu bisa aku lakukan dengan mudah. Betapa tidak, masjid di Al-falah sangat berdekatan dengan lingkungan asrama putri. Apalagi kobong Aisyah dua atau kamar yang ditempati Rani berjarak sekitar 30 meter dari pintu koridor Masjid.</p>
<p>Rani sangat berpengaruh besar dalam hidupku,. Setiap surat yang dia kirimkan, selalu berbentuk kata pujian, kekagumannya pada diriku, atau tentang kinerjaku di OSIS. Beberapa ungkapan yang ia goreskan dalam suratnya membuat aku lebih bersemangat untuk pro aktif dalam setiap kegiatan apapun yang diadakan di Pesantren atau di MTs. Pondok al-Qur-an al-Falah, begitulah orang-orang menyebutnya. Pesantren ini cukup terkenal di Jawa Barat, karena kharisma pengasuh pondok pesantren ini cukup tersohor. Beliau adalah seorang ulama yang terkenal dengan suaranya dalam melantunkan al-Qur-an, K.H. Ahmad Syahid.</p>
<p>Pesantren ini pula didalamnya terdapat kurikulum berbasis pesantren yang cukup menjanjikan bagi seorang santri. Hal ini berdasarkan bahwa kurikulum yang dipakai di pesantren ini cukup kompeten. Dipesantren ini diajarkan berbagai pelajaran agama yang terbilang cukup mendalam, terlebih pendidikan terhadap pemahaman al-qur-an.</p>
<p>Di bawah bimbingan asatidz berkulitas dari segi keilmuan keagamaanya, aku tumbuh menjadi sosok remaja yang penuh dengan cakrawala religi. Didalam bidang tafsir dibimbing langsung oleh K.H. Ahmad Syahid; di bidang fiqh, belajar dibawah bimbingan H. Makhtum Abdul Karim dan Solihin. Begitu kerasnya pendidikan yang mereka terapkan, menumbuhkan sikap disiplin dan tidak ada toleransi sedikit pun terhadap orang lain yang berbuat kesalahan. Di bawah bimbingan ustadz Nurul Iman, belajar bagaimana mengenalkan diri pada Sang Pengendali Taqdir. Tidak luput, seorang guru yang sangat berjasa yang sering mengajarkan kepadaku agar hidup selalu bersikap fleksibel terhadap siapapun dan apapun peristiwa dan kondisi yang menimpanya ialah Alm. Ahmad Abdullah Masturi.</p>
<p>Aku selalu jadi <em>the best </em>di Madrasah Tsanawiyyah Al-Falah. Benih kebahagiaan hubunganku dengan Rani menjadikan aku bebas berekspresi, bahkan menghadirkan inspirasi untuk menyumbangkan ide-ide kreatif untuk kemajuan pesantren, seperti halnya ketika belum adanya penelusuran bakat dan minat dan kemampuan santri di pesantren, aku yang mengusulkan langsung kepada Ajengan Syahid (pengasuh pesantren) agar dibentuk unit kegiatan santri baru yang sesuai dengan bakat yang santri miliki. Misalnya jika santri memiliki minat untuk meningkatkan bakat serta kemampuannya dalam bidang kaligrafi, maka harus dikembangkan melalui suatu unit kegiatan santri yang menggali potensi dalam bidang kaligrafi. Begitu pula dengan yang lainnya. Dari ideku munculah beberapa unit kegiatan santri, seperti Lembaga Bahasa Inggris, Pramuka, Team paskibra, Study Kaligrafi, untuk melengkapi Lembaga Bahasa Arab Al-Falah, serta Takhosus untuk Qiro&#8217;at, yang telah ada.</p>
<p>Dengan bermunculannya beberapa unit kegiatan santri yang baru, direspon positif oleh para santri. Saat itu aku bukan hanya seorang penggagas, tapi aku juga menjadi seorang perintis terutama untuk kegiatan pramuka dan dan Lembaga Bahasa Inggris. Kedua bidang itulah yang paling aku anggap cocok dengan bakat dan kemampuan yang aku miliki. Pasalnya aku ingin mengembangkan kembali dasar-dasar teknik pramuka dan bahasa inggris yang telah aku pelajari sebelumnya di SD Assalaam.</p>
<p>Perjuangan beserta sahabat-sahabatku untuk membangun pesantren dengan berbagai unit kegiatan santri ternyata berdampak positif bagi kemajuan pesantren, seperti halnya beberapa santri andalan turutmengikuti berbagai macam lomba antar sekolah. Bahkan beberapa kali menjadi juara semasa kepengurusan OSIS yang dipimpin olehku. Aku juga terkadang menjadi salah satu kontingen sekolah, terutama lomba-lomba yang berkaitan dengan bahasa Inggris, seperti Lomba Pidato Bahasa Inggris, dan Debat dalam Bahasa Ingris.</p>
<p>Bergabungnya aku dalam Lembaga Bahasa Inggris (LBI) waktu itu dipimpin oleh Dudi Iskandar, guru bahasa inggris lulusan Kediri. Bersama kawan-kawan lainnya, Rizky, Aji Rahmadi, Taufik Ramdani, kami berjuang keras, karena tidak bisa dipungkiri lembaga bahasa Inggris kurang mendapatkan perhatian yang serius dari pihak pesantren, terutama masalah dana. Namun karena semua kegiatan Lembaga Bahasa Inggris dilakukan secara militan, kembali menjadikanku sosok yang lumayan disegani dihadapan kawan-kawannya dan guru-guru lainnya.</p>
<p><strong>AKU ADALAH SEORANG PEMAKSA NAMUN DIBALIK PAKSAANKU BERNILAI KEBAIKAN</strong></p>
<p>Pada saat itu, olahraga basket terbilang mahal. Sebab selain tidak adanya lapangan basket, santri lebih cenderung senang dengan olah raga sepakbola yang pada waktu itu digawangi oleh Pak Budi sebagai Pelatih plus guru olahraga yang paling dekat dengan para siswa. Tapi karena ada invitasi dari sekolah lain yang mengadakan lomba basket antar SMP se-Bandung Timur (waktu itu al-ma&#8217;soem sebagai penyelanggaranya), membuat aku memutar otak supaya tetap bisa ikut dalam lomba tersebut. Berbagai carapun aku gunakan untuk melobi dewan guru dan pihak yayasan. Akhirnya pihak sekolah dan yayasan pun menyetujuinya dan team basket &#8220;dadakan&#8221; alfa pun bisa ikut berpartisipasi dalam lomba tersebut, walau harus kalah pada babak kualifikasi. Setidaknya hal tersebut sedikit menjadikan kebanggaan dan kemajuan bagi MTs Al-falah. Selain hal tersebut, aku juga selalu berusaha dengan keras agar semua program yang telah dirancang oleh kabinet kemakmuran yang aku susun dapat berjalan, walaupun hanya satu kali. Semangatku seperti itu mengantarkanku menjadi seorang pemimpin nomor satu dikalangan para siswa lainnya. aku menjalankan organisasi OSIS dengan baik. Memang tidak hanya aku saja yang berjasa terhadap OSIS, tapi setidaknya cara berfikirku yang yang dikembangkan bersama jajaran pengurus osis lainnya menjadikan menjadi nomor satu diantara angkatan lainnya. Pasalnya aku selalu menekankan beberapa hal, yaitu berorganisasi harus aktif, kreatif, inovatif, dan kualifaid agar menjadi seorang organisatoris yang mengukir sejarah. Walaupun pola kepemimpinanku kerapkali dianggap arogan dan diktator serta seringkali terjadi perbedaan pemahaman dengan jajaran lainnya yang berujung keributan-keributan kecil.</p>
<p>Dengan semangatku seperti itu, pada waktu itu aku mulai dikenal, baik santri laki-laki atau santri perempuan. Namun bukan tanpa cacat, karena manusia juga adalah makhluk yang tidak sempurna. Aku juga remaja, pernah merasakan nikmatnya masa-masa pacaran yang sudah tentu hal itu sangat dilarang dipesantren. Berbagai cara siapapun orangnya termasuk aku, berusaha untuk mendapatkan perhatian dan tentunya bisa bertemu dengan orang yang memang sudah mencuri hatiku.</p>
<p>Rani Nurhayati, santri putri yang telah membuatku &#8220;<em>Fall In Love</em>&#8221; adalah sesosok perempuan yang tinggi semampai, pintar dan cantik, jua tergabung dalam pengurus OSIS. Paling tidak, kesempatan untuk bersua pun semakin besar, karena sama-sama pengurus OSIS. Biasanya seusai rapat OSIS, aku dan Rani menyempatkan sedikit waktu untuk sekedar ngobrol, walau dalam hatiku sedikit degdegan takut ketahuan.</p>
<p>Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh jua. Mungkin itu pribahasa yang tepat untuk menggambarkan beberapa &#8220;cinta terlarang&#8221; yang terjadi di pesantren. Adalah aku, Ami, Hafidz dan kawan lainnya yang tertangkap basah oleh beberapa pengurus putera dan puteri, karena berkencan tengah malam di tangga dekat Aula pesantren-kami menyebutnya dengan &#8220;tangga cinta&#8221;.</p>
<p>Keindahan hubungan cinta kami pun sedikit terganggu. Pasalnya pengurus puteri, khususnya &#8220;Téh Dewi Sarah&#8221;-begitu santri puteri memanggilnya, marah bukan kepalang. Rani dan beberapa santri putri yang mempunyai pasangan kena hukuman yang dikenakan oleh pengurus. Tapi, sebagai imbasnya semua santri kena hukuman &#8220;preventif&#8221; agar &#8220;Cinta di dibalik Penjara Suci&#8221; tidak merambat ke seluruh santri.</p>
<p><strong>IMBANGI KEBURUKAN DENGAN KEBAIKAN</strong></p>
<p>Setelah tersiar kabar dari beberapa pengurus OSIS putri, jika para pasangan putri telah tercium gerak-geriknya karena memiliki pasangan, sempat tersirat dalam pikiranku untuk memperbaiki image angkatanku di mata para pengurus Pesantren. Walaupun sempat hatiku berontak, kenapa mencintai itu dilarang? Pada waktu itu, bertepatan dengan moment acara per9ingatan kemerdekaan Republik Indonesia, sebagai ketua OSIS aku ditunjuk oleh H. Makhtum Abdul sang Rois pesantren untuk menggelar kegiatan peringatan HUT RI.</p>
<p>Aku pun terima tawaran itu. Walaupun dengan dana seadanya, aku dibantu oleh semua teman seangkatanku menggelar beberapa lomba merakyat yang biasa digelar jika 17-an tiba dengan sangat meriah. Sampai pada saat pembagian hadiah, kami menggelar malam puncak dengan kreasi seni khas santri. Hampir semua angkatan berpartisipasi memeriahkan acara tersebut. Pada saat itu, aku mendapat bocoran: jika santri putri akan menampilkan drama musikal berdurasi pendek yang menceritakan kasih sayang seorang ibu.</p>
<p>Seolah tak mau kalah, kami pun, santri putra, mendadak latihan drama. Hanya saja yang santri putra tampilkan merupakan drama komedi yang menceritakan beberapa profesi dengan karakter lucu. Bermaksud ingin menambah pendalaman karakter agar totalitas peran bisa kami tampilkan dengan sempurna serta mengurangi perasaan malu, kami pun memoles wajah kami dengan bedak yang begitu tebalnya serta ditambah goresan lipstik tebal di beberapa bagian wajah kami. Saat itu aku berperan sebagai tukang <em>peuyeum</em> (tape). Beberapa lawan mainku, Hafidz, Amy, Aji dan sang pencair suasana Gunawan Ganda, mengambil peran banci, pejabat yang korup, mahasiswa dan guru.</p>
<p>Walaupun tanpa konsep yang jelas, namun drama tersebut mampu membuat semua penonton tertawa terbahak-bahak. Diatas deretan meja dari beberapa kelas yang kami susun sebelum acara dimulai, kami mampu berimprovisasi. Tak ayal saat kami tampil sorak sorai luapan kegembiraan serta tepuk tangan pun terdengar menghangatkan suasana, terutama saat kami sedikit bumbui dengan beberapa kritikan tentang cinta. Kritikan tersebut kami tujukan kepada pengurus pesantren putri yang kami anggap terlalu over protektif kepada santrinya. Kendatipun ada sedikit perasaan jika kritikan yang kami sampaikan melalui sebuah drama, berimbas omelan pengurus pesantren putri karena mereka tidak menerima kritikan yang kami sampaikan.</p>
<p>Walhasil setelah kami turun panggung, ternyata tidak terjadi apa-apa. Bahkan ada beberapa respon positif dari teman-teman kami jika penampilan kami mendekati sempurna. Terlebih penampilan drama yang kami tampilkan adalah aksi teaterikal pertama kali yang ditampilkan di pesantren.</p>
<p>Beberapa minggu setelah penampilan itu, rumor asrama putri kembali menggeliat. Pasalnya Rani dan beberapa temannya yang memiliki pasangan kembali dipanggil pengurus pesantren putri. Deraan hukuman digulirkan, seperti membersihkan Mesjid, serta MCK putri dan hukuman lainnya harus mereka jalani. Para pasangan putra, termasuk aku, terkena pemanggilan pula. Namun hanya sebatas pemanggilan dan sangsi moril saja saja yang kami terima.</p>
<p>Hal tersebut tidak menyurutkan ku untuk tetap berkomunikasi dengan Rani. Perasaan kangenku tak tertahankan. Aku ingin tahu kabar dia saat itu. Maklum setelah pemanggilan pertama, kami tidak saling berkirim surat. Untuk kali ini, aku memikirkan cara lain, agar gerak-geriku tidak dicurigai, aku coba berkomunikasi lewat buku. Buku yang bertuliskan perasaan rinduku aku titipkan kepada pengurus OSIS putri.</p>
<p>Dan dalam surat balasannya, Rani membenarkan rumor yang terjadi. Rani berpesan agar hubungan kami terpaksa harus terhenti sementara waktu. Keputusan yang Rani tulis tampaknya harus aku terima. Hal ini aku lakukan demi kebaikan kami berdua.</p>
<p>Beberapa minggu setelah pemanggilanku oleh pihak  pesantren, aku kembali membuat sebuah gebrakan. Saat itu, aku mengajak semua angkatanku untuk membenahi beberapa infrastruktur di pesantren, seperti pagar di tiap-tiap kamar yang saat itu belum ada, serta tiang jemuran yang  saat itu masih terbilang kurang. Hanya dengan modal kemauan, kami membawa beberapa tangkai bambu besar dari hutan bambu yang jaraknya tidak jauh dari pesantren. Bahu-membahu kami pun membelah beberapa bambu itu untuk dijadikan pagar dan tiang jemuran. <em>Alhamdulillah </em>usaha kami tidak sia-sia, angkatan kami pun mendapatkan kepercayaan kembali dari pengurus pesantren hingga masa kelulusan pesantren.</p>
<p>Selepas kelulusan Pesantren di tahun 1999, aku melanjutkan  pendidikanku ke SMK Prakarya Internasional jurusan Listrik Instalasi. Saat itu aku sikapku dalam menghadapi berbagai masalah tidak pernah berubah. Hanya saja ketika aku berhadapan dengan masalah perempuan, semuanya terabaikan, bahkan boleh dibilang aku ini traumatis. Saat duduk di kelas 1 SMK, aku masih berhubungan dengan Rani, namun karena ada beberapa permasalahan yang masing-masing tidak mau mengalah, akhirnya kami memilih untuk berpisah. Untuk melupakan Rani, aku kembali aktif di beberapa organisasi di Sekolah, terutama OSIS. Aku kembali menjadi Ketua umum.</p>
<p>Berbeda dengan saat di Pesantren,  di SMK Prakarya aku tidak terlalu booming membuat kegiatan, karena aku lebih konsen dalam akademis. Alhamdulillah untuk urusan prestasi di kelas,  aku tetap nomor satu. Bahkan aku menjadi nominasi 18 besar Siswa teladan se-kota Bandung yang diselenggarakan Dinas Pendididikan dan Kebudayaan Kota Bandung.  Selain itu, aku lebih memilih pro aktif di beberapa organisasi di rumah, serta aku aktif pula di Mesjid Nurul Huda, Mesjid Nurul Hidayah dan Mesjid Al-Hikmah sebagai tenaga pengajar. Dari mesjid ke mesjid, aku kenal dengan beberapa santri yang notabene usia mereka berbeda beberapa tahun dariku.</p>
<p>Naluri lelakiku menggebu-gebu saat itu. Betapa tidak, aku merasakan ada suatu ruang yang kosong dalam hidupku. Aku tertarik pada santriku, Neysa Wulansari. Hubunganku dengan Wulan terbilang cukup lama. Namun karena ada sesuatu hal, hubungan kami pun kandas kembali. Sejak saat itu hingga kini, aku masih tetap menjomblo. Namun, Rani menikah dengan Riana Firdaus. Aku kenal suaminya, karena dia adalah guru ngajiku dulu di pesantren. Sedangkan Wulan, kini telah memiliki kekasih.</p>
<p>Bersama rekan-rekan Agus Malik Ibrahim, Sri Mulyati, Umi, Aji Rahmadi, Adi, Dawami dan lainnya, aku mendirikan paguyuban Alfa 99 yang mengutamakan bahwa silaturahmi adalah kunci dari segalanya. Aku sangat aktif dalam mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh organisasi ini disela-sela kesibukanku menjadi seorang mahasiswa yang terdaftar di UIN Bandung serta menjadi seorang presenter dan reporter di PJTV Bandung. ***</p>
<p><em>Andri Hardiansyah, Mahasiswa Jurusan KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopinet.info/disini-ada-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rekes CPNS</title>
		<link>http://kopinet.info/rekes-cpns/</link>
		<comments>http://kopinet.info/rekes-cpns/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2008 22:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suzi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Saung Ki Sunda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopinet.info/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[Oleh DHIPA GALUH PURBA

Benar-benar ironis persoalan ijazah di negeri ini. Ada anggota DPR dan kepala daerah yang terbukti menggunakan ijazah palsu setelah sekian lama ongkang kaki menikmati berbagai fasilitas istimewa dari negara. Sementara guru honorer yang mendaftar PNS dengan ijazah asli tiba-tiba dipersoalkan hanya karena tidak ada nomor register dalam fotokopi ijazah yang telah dilegalisasi secara sah (dari kampusnya memang tidak diberi nomor register).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]> <mce:style><!<br />
/* Style Definitions */<br />
table.MsoNormalTable<br />
{mso-style-name:"Table Normal";<br />
mso-tstyle-rowband-size:0;<br />
mso-tstyle-colband-size:0;<br />
mso-style-noshow:yes;<br />
mso-style-parent:"";<br />
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;<br />
mso-para-margin:0cm;<br />
mso-para-margin-bottom:.0001pt;<br />
mso-pagination:widow-orphan;<br />
font-size:10.0pt;<br />
font-family:"Times New Roman";<br />
mso-ansi-language:#0400;<br />
mso-fareast-language:#0400;<br />
mso-bidi-language:#0400;}<br />
--> <!--[endif]--></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Oleh <strong><span style="font-family: Tahoma;">DHIPA GALUH PURBA</span></strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Ribuan calon pegawai negeri sipil tidak protes meski mendapatkan pelayanan kurang beres. Mereka berdesakan di depan loket pendaftaran untuk mendapatkan nomor tes CPNS. Calon guru, penyuluh, sampai penghulu berburu nomor urut untuk duduk di kursi yang tidak empuk. Sebab, menjadi peserta CPNS bukan semacam kontes yang bisa membuat orang sukses dalam sekejap.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Baru mau mendapatkan nomor tes, susahnya hampir membuat stres. Setidaknya kesan itulah yang bisa ditangkap dari proses pendaftaran CPNS di Kantor Departemen Agama (Depag) Kabupaten Bandung beberapa waktu lalu. Lembaga ini tidak mampu menyewa pengeras suara-setidaknya pada hari itu-sehingga pendaftar harus berjubel di depan loket karena khawatir namanya dipanggil. Setiap petugas memanggil nama salah seorang pendaftar, para pendaftar pun membantu memanggil nama tersebut secara estafet.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Sungguh memprihatinkan. Mengurus pendaftaran CPNS semestinya dikerjakan secara serius. Seandainya pendaftar hanya puluhan orang, tanpa pengeras suara pun tampaknya masih bisa diatasi. Namun, ini menyangkut ribuan orang, yang idealnya harus dibageakeun dengan persiapan matang. Sebagai perbandingan, di lingkungan Pemerintah Kota Sukabumi, proses pendaftaran CPNS digelar di GOR Merdeka, Jalan Perintis Kemerdekaan. Pemilihan tempat itu sudah menunjukkan adanya tarekah dalam mengantisipasi pendaftar CPNS yang membeludak.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Selain itu, banyak yang mengeluh karena merasa dipersulit panitia penerimaan CPNS Depag Kabupaten Bandung. Pendaftar yang sudah menunggu berjam-jam terpaksa harus mengurungkan-paling tidak mengundurkan-niat merekes CPNS. Pasalnya, ada berkas yang dianggap kurang lengkap meski sekadar masalah legalisasi pada fotokopi ijazah yang tidak diberi nomor register. Padahal, fotokopi ijazah itu sudah ditandatangani dekan, distempel, lengkap dengan keterangan waktu berupa tanggal, bulan, dan tahun. Jelas itu bukan ijazah palsu. Kalau memang dianggap meragukan, tinggal dicek ke kampus yang bersangkutan.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Benar-benar ironis persoalan ijazah di negeri ini. Ada anggota DPR dan kepala daerah yang terbukti menggunakan ijazah palsu setelah sekian lama ongkang kaki menikmati berbagai fasilitas istimewa dari negara. Sementara guru honorer yang mendaftar PNS dengan ijazah asli tiba-tiba dipersoalkan hanya karena tidak ada nomor register dalam fotokopi ijazah yang telah dilegalisasi secara sah (dari kampusnya memang tidak diberi nomor register).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Melamar kena pajak</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Di lingkungan Pemkot dan Pemkab Bandung, Pemkot dan Pemkab Bogor, Pemkab Bandung Barat, dan Pemkab Sukabumi, para peserta tidak usah berdesak-desakan di depan loket. Setiap pelamar hanya mengirimkan rekes CPNS melalui kantor pos. Mereka memang tidak dipungut biaya sepeser pun, tetapi bukan berarti sepi dari urusan duit. Contohnya, rekes CPNS harus ditandatangani di atas meterai seharga Rp 6.000.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Tertutup sudah pintu PNS bagi yang tidak mampu membeli meterai. Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1985 tidak ada kalimat yang mewajibkan pembubuhan meterai pada rekes CPNS. Meterai bukan alat keabsahan sebuah dokumen, melainkan bukti pembayaran pajak pada negara atas pembuatan dokumen. Maka dari itu, Pemkab Bandung tidak mewajibkan CPNS membeli meterai. Bahkan, sebagai perbandingan, di lingkungan Pemkot Surakarta, Jawa Tengah, ditegaskan tata cara pendaftaran CPNS tahun ini, di antaranya surat lamaran ditulis tangan sendiri pada kertas folio bergaris sesuai format yang telah ditentukan, tanpa meterai, dengan menuliskan data selengkap-lengkapnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Selain itu, pengiriman rekes CPNS pun harus menggunakan layanan pos kilat khusus dengan biaya Rp 7.500 dan wajib menyertakan sehelai prangko seharga Rp 4.500. Prangko tersebut untuk pengiriman surat panggilan tes bagi yang dianggap memenuhi syarat. Rekes yang tidak memenuhi syarat tidak akan dibalas. Artinya, panitia penerimaan CPNS akan mendapatkan &#8220;laba&#8221; Rp 4.500.000 dari 1.000 orang yang tidak memenuhi syarat.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Guru Bahasa Sunda</span></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Sementara itu, kandungan Pasal 32 Ayat (2) UUD 1945 dan Peraturan Daerah Jawa Barat Nomor 5 Tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah ternyata belum dapat mendorong pemerintah untuk lebih banyak mengangkat guru PNS mata pelajaran Bahasa Sunda.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Di antara para pelamar kerja yang berdesak-desakan di depan loket pendaftaran CPNS Depag Kabupaten Bandung, cukup banyak pelamar untuk guru Bahasa Daerah (Sunda). Padahal, kuotanya hanya dua orang. Satu orang untuk MTsN dan satu orang untuk MAN. Total, Depag Jabar membuka lowongan bagi 430 guru. Dari jumlah itu, jatah guru Bahasa Sunda hanya 23 orang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Pemkot Bandung membuka lowongan 255 guru, dan jatah guru Bahasa Sunda hanya 11 orang. Tidak jauh berbeda dengan Pemkab Bandung, dari 205 lowongan guru, jatah guru Bahasa Sunda hanya empat orang. Lebih parah lagi di Kabupaten Bandung Barat, dari lowongan 301 guru, Pemkab Bandung Barat sama sekali tidak membuka lowongan untuk guru Bahasa Sunda.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Ada 109 lowongan guru di lingkungan Pemkot Sukabumi. Dari jumlah tersebut, guru Bahasa Sunda hanya mendapatkan jatah lima orang. Sama halnya dengan Pemkab Sukabumi, dari 249 lowongan guru, jatah guru Bahasa Sunda hanya lima orang.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Masih lumayan Kota Bogor, meski hanya membuka lowongan dua guru Bahasa Sunda, jumlah total lowongan guru hanya 20 orang untuk semua tingkatan. Begitu pula di Kabupaten Bogor, dari 97 lowongan guru, masih terselip jatah untuk tiga guru Bahasa Sunda.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Meski kenyataannya seperti itu, bahasa Sunda harus tetap diajarkan kepada masyarakat. Tanpa melalui lembaga pendidikan formal, guru Bahasa Sunda bisa tetap mengajar secara nonformal, misalnya dengan membuka kursus bahasa Sunda, membuat situs interaktif bahasa Sunda di dunia maya, mendirikan perpustakaan buku Sunda, dan sebagainya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">DHIPA GALUH PURBA <em><span style="font-family: Tahoma;">Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Studi Masyarakat Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung</span></em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!<br />
/* Style Definitions */<br />
table.MsoNormalTable<br />
{mso-style-name:"Table Normal";<br />
mso-tstyle-rowband-size:0;<br />
mso-tstyle-colband-size:0;<br />
mso-style-noshow:yes;<br />
mso-style-parent:"";<br />
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;<br />
mso-para-margin:0cm;<br />
mso-para-margin-bottom:.0001pt;<br />
mso-pagination:widow-orphan;<br />
font-size:10.0pt;<br />
font-family:"Times New Roman";<br />
mso-ansi-language:#0400;<br />
mso-fareast-language:#0400;<br />
mso-bidi-language:#0400;}<br />
--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span class="tglct"><span style="font-size: 10pt; font-family: Tahoma;">Dimuat di lembar Forum KOMPAS JAWA BARAT, Kamis, 18 Desember 2008. <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/18/16390066/.rekes.cpns">Klik disini</a> untuk melihat langsung di KOMPAS.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopinet.info/rekes-cpns/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Masih Panjang</title>
		<link>http://kopinet.info/perjalanan-masih-panjang/</link>
		<comments>http://kopinet.info/perjalanan-masih-panjang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Dec 2008 16:39:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suzi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The Memories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopinet.info/?p=388</guid>
		<description><![CDATA[Oleh DINI JULIAN

Ayah memberi ultimatum yang sangat keras: apabila tidak mau masuk sekolah tersebut maka saya tidak usah melanjutkan sekolah. Karena ultimatum itu, saya pun terpaksa masuk menurut. Dan tidak lama kemudian, saya menikmati belajar di sekolah itu dan saya pun mengikuti berbagai Ekstakulikuler yang ada di sekolahan, dimulai dari Organisasi Pramuka, KJS (Kelompok Jurnalis Siswa), KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), dan Bela Diri Ajimatuloh]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0         false   false   false                             MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p>Oleh DINI JULIAN</p>
<p>ORANG tua memberi nama Dini Julian Rachmawati Z. Saya dilahirkan dari keluarga yang cukup harmonis. Dalam nama Dini Julian Rachmawati Z terdapat arti yang berhubungan dengan kelahiran saya. DINI artinya adalah pagi atau subuh, berkenaan dengan waktu kelahiran pada pagi hari, tepatnya pukul 04.00 WIB. JULIAN artinya  bulan Juli, RACHAWATI menunjukkan ayah dan Ibu saya yang sangat bersyukur atas rahmat lahirnya seorang anak perempuan. Sedangkan Z adalah inisial dari nama belakang ayah, Didin Zaenudin.</p>
<p>Saya anak ketiga dari tujuh bersaudara. Kakak sulung saya perempuan, bernama Diani Tresna Lestari, dan kakak laki-laki bernama Yandi Rizal Akbar. Adik-adik saya, Nurul Fitri Putriani, Akmal, Putrid, dan Kevin.</p>
<p>Ayah saya berasal dari Bandung. Beliau adalah kepala keluarga yang sekaligus menjadi tulang punggung keluarga. Beliau berfrofesi sebagai guru di SMPN 36 dan sekolah swasta YPKKP. Alhamdulillah, ayah telah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Di sekolah, beliau mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pada tahun 2000, beliau mengundurkan diri sebagai guru di sekolah swasta YPKKP, sehingga sekarang beliau lebih fokus mengajar di SMPN 36 Bandung.</p>
<p>Beliau adalah sosok ayah yang sangat tegas dalam mendidik anak-anaknya dan selalu menanamkan sikap kemandirian. Contohnya, apabila saya menginginkan sesuatu, maka saya harus bekerja keras untuk mendapatkannya. Meski begitu, ayah saya selalu membantu dan membimbing dari belakang.</p>
<p>Ibu kandung saya bernama Titing Yani. Beliau berasal dari Cianjur. Sehari-hari, ibu mencurahkan perhatiannya kepada keluarga dengan menjadi seorang ibu rumah tangga. Saya diasuh oleh beliau sampai berusia 17 tahun. Sebab pada tahun 2004, beliau meninggal pada usia yang terbilang muda, 37 tahun. Ibu meningal karena terjangkit penyakit gagal hati.</p>
<p>Setelah tiga tahun ditinggal ibu, akhirnya Ayah menikah lagi, dan sampai sekarang beliau menjadi penganti ibu di keluarga. Pada saat saya berumur empat tahun, saya sempat tinggal di Cianjur bersama ibu. Sedangkan kakak-kakak saya tinggal bersama ayah di Bandung. Kemudian, ketika berumur enam tahun, saya pun kembali ke Bandung dan berkumpul lagi bersama keluarga. Saat saya di Bandung, kami sekeluarga pindah rumah. Asalnya kami tinggal di Margahayu Kencana, lalu pindah ke Cijerah sampai sekarang. Di Cijerah, rumah kami berhadapan dengan rumah nenek.</p>
<p>Ernita, teman saya sejak kecil, meski berbeda agama tetapi tidak menjadi persoalan, bahkan kami sudah seperti keluarga. Dia sudah lulus kuliah dari UNPAD, dan sekarang sudah mendapatkan kerja.</p>
<p>Pada usia tujuh tahun, saya disekolahkan di SDN PERUMNAS CIJERAH 03. Kakak saya pun sekolah di sana.  Ketika saya masuk kelas satu, kakak saya sudah kelas empat. Di sana, saya sangat aktif mengikuti ekstrakulikuler meskipun terkadang dalam suatu kegiatan jarang diizinkan oleh keluarga, masalahnya saya sering sakit.</p>
<p>Pada saat saya kelas lima  SD, saya di pindah dari SDN PERUMNAS CIJERAH 03 ke SDN CIJERAH 06, yang lokasinya di BTN Saibi. Meskipun tidak beda jauh dengan sekolah saya sebelumnya, tapi orang tua beranggapan bahwa sekolah yang baru sangat berkualitas dan didukung sarana belajar yang lebih kondusif.</p>
<p>Orang tua saya pun mendaftarkan saya ke madrasah untuk mendapatkan pendidikan agama. Selain itu, saya pun mengikuti program Bimbingan Belajar (BimBel) yang dikelola ayah. Pada</p>
<p>Tahun 2000, saya menyelesaikan pendidikan di SD. Awalnya saya ingin sekali masuk sekolah favorit di Bandung, yaitu SMPN 9 atau SMPN 1 Bandung, tapi apa daya ternyata NEM saya tidak mencukupi. Akhirnya saya masuk ke SMPN 39 Bandung. Saya sangat aktif dalam mengikuti organisasi PASKIBRA. Ketika saya kelas satu, saya dikenal sebagai anak yang pendiam, tapi&#8230; cukup berprestasi. Sampai saya kelas 2, selalu mendapatkan peringkat tiga besar. Namun pada saat saya beranjak kelas tiga, prestasi saya mulai menurun. Padahal saat itu akan menghadapi Ujian Negara Nasional, dan  saya sadar nilai ujian tersebut akan menentukan arah masa depan saya kelak untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi.</p>
<p>Akhirnya pengumuman kelulusan tiba. Saya melanjutkan ke Sekolah Menengah Umum (SMU). Namun lagi-lagi saya gagal untuk bisa masuk ke sekolah yang favorit di Bandung. Ayah menginginkan saya masuk MAN 1 Bandung, sehingga saya masuk ke sekolah tersebut. Awalnya saya memang keberatan dengan permintaan ayah, karena  jika masuk sekolah tersebut semua siswi wajib memakai jilbab. Pada saat itu, saya belum siap (kini saya sadar, keberatan saya waktu itu sangat bodoh).</p>
<p>Ayah memberi ultimatum yang sangat keras: apabila tidak mau masuk sekolah tersebut maka saya tidak usah melanjutkan sekolah. Karena ultimatum itu, saya pun terpaksa masuk menurut. Dan tidak lama kemudian, saya menikmati belajar di sekolah itu dan saya pun mengikuti berbagai Ekstakulikuler yang ada di sekolahan, dimulai dari Organisasi Pramuka, KJS (Kelompok Jurnalis Siswa), KIR (Kelompok Ilmiah Remaja), dan Bela Diri Ajimatuloh</p>
<p>Ketika sedang semangat-semangatnya mengikuti organisasi tersebut, saya mendapatkan kabar yang sangat menyedihkan: ibu yang telah merawat saya, telah meninggal dunia. Semenjak itu saya mengundurkan diri dari beberapa  organisasi, hanya aktif di Pramuka. Saat saya kelas dua, saya masuk jurusan Bahasa. Saya mendapatkan seorang sahabat bernama Wina dan Riza. Hingga saat ini mereka selalu menemani dalam keadaan apapun.</p>
<p>Mereka adalah teman sekaligus sahabat seperjuangan. Kami pernah iku serta dalam perlombaan paduan Suara tingkat SMA di UPI, dan kami menjadi juara ke-3.</p>
<p>Selain aktif di organisasi pramuka di sekolah, aktif di Pramuka kota Bandung. Saya mengikuti Satuan Karya Bahari yang dalam kegiatannya selalu bekerjasama dengan TNI-AL, seperti mengikuti Bahari. Saya mendapatkan banyak pengalaman. Saya diangkat menjadi Dewan Putri Saka Bahari.</p>
<p>Saya pun sering mengikuti perlombaan-perlombaan dan pertemuan anggota bahari se-Indonesia yang kegiatannya di bernama JAMNAS ( Jambore Nasional) atas Utusan Saka Bahari. Saya pun menjadi panitia dalam kegiatan tersebut. Misalnya pernah bertugas menjadi moderator dalam kegiatan tersebut. Selain itu, dalam setiap kegiatan selalu di berikan perhargaan-penghargaan.</p>
<p>Tidak terasa, usai sudah tiga tahun menjalani sekolah di MAN 1 BANDUNG dan akhirnya saya lulus dengan nilai terbaik. Namun perjuangan dalam mencari pendidikan belum usai. Masih panjang perjuangan di depan mata. Setelah lulus, saya pun berencana untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Saya bercita-cita menjadi guru, khususnya guru Bahasa.Inggris, dan Perguruan Tinggi yang saya inginkan adalah UPI (Universitas Pendidikan Indonesia). Untuk memasuki UPI, saya harus mengikuti SPMB dan Pilihan saya tentunya UPI dengan Jurusan Bahasa. Inggris dan Bahasa Indonesia. Namun saya tidak lulus SPMB. Sebelumnya saya pun pernah mengikuti PMDK, tetapi ternyata hasilnya sama, dan akhirnya memilih mengikuti ujian tes tulis di UIN Sunan Gunung Djati. Saya memilih Fakultas Tarbiyah dengan Jurusan Pendidikan Bahasa.Inggris dan Fakultas Dakwah, Jurusan KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) hingga saya lulus di KPI. Saya memulai menjalani kuliah dengan belajar di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, di Jurusan KPI.</p>
<p>Pada tingkat pertama, saya pergi kuliah dengan memakai bis. Jarak dari rumah ke kampus cukup jauh, membutuhkan waktu dua jam untuk sampai di kampus. Lalu setelah itu, saya mencoba pergi dengan menggunakan sepeda motor. Namun ternyata sama saja sangat melelahkan. Orang tuan menyarankan untuk kost, dan akhirnya hingga sekarang saya kost. Saya berharap dapat menyelesaikan kuliah saya tepat pada waktunya dengan nilai dan hasil terbaik meskipun sekarang baru semester III. Setidaknya saya dapat menjadi seorang mubaligh yang diharapkan oleh masyarakat.</p>
<p>Sesungguhnya Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Karena seberat apapun cobaan dan penderitaan yang datang, maka di depan sana akan ada kebahagian yang menanti.***</p>
<p>DINI JULIAN, Mahasiswa Jurusan KPI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://kopinet.info/perjalanan-masih-panjang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Harapan Selalu Ada, Selama Tak Bercerai Dengan Do’a dan Usaha</title>
		<link>http://kopinet.info/harapan-selalu-ada-selama-tak-bercerai-dengan-do%e2%80%99a-dan-usaha/</link>
		<comments>http://kopinet.info/harapan-selalu-ada-selama-tak-bercerai-dengan-do%e2%80%99a-dan-usaha/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Dec 2008 19:28:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suzi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[The Memories]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://kopinet.info/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Catatan Kecil CUCU TRI LESTARI


Aku bekerja sebagi SPG hanya bertahan dua minggu. Setelah sebulan keluar dari SPG, aku mendapat tawaran lagi untuk menjadi seorang ADM di sebuah perusahaan sepatu. Disana aku bekerja selama tiga bulan. Karena aku sakit, akhirnya aku keluar juga. Aku sadar ternyata mencari uang itu tidak mudah. Waktu, tenaga harus dikorbankan demi mencari sesuap nasi dan demi mencari upah yang tidak seberapa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --> <!--[endif]--><!--  --><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} --> <!--[endif]--></p>
<p>Catatan Kecil <strong>CUCU TRI LESTARI</strong></p>
<p>Di hari yang cerah, menurut ibuku, saat matahari berada tepat 90˚. Tepat hari Selasa pukul 12.00 Wib, pada 23 Agustus 1988, aku dilahirkan di Bandung, yang sampai saat ini masih menjadi tempat tinggalku dan keluarga.</p>
<p>Aku dilahirkan oleh ibu yang bernama Ecin, dan ayah Bernama Harun. Aku telah diberi nama Cucu Tri Lestari. Tentu, orang tuaku memberi nama sekaligus maknanya. Kata &#8220;cucu&#8221; dalam bahasa Sunda adalah panggilan buat seorang  anak bungsu. Jadi, orang tuaku menginginkan aku menjadi anak yang terakhir. Tapi&#8230; Tuhan berkehendak lain. Aku malah mempunyai 2 orang adik</p>
<p>Kata &#8220;Tri&#8221; dalam bahasa Inggris adalah tiga. Jadi, aku adalah anak ketiga. Sedangkan kata &#8220;Lestari&#8221; dalam Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang harus di pelihara agar tetap abadi, agar makmur. Orang tuaku berkeinginan agar aku ini tetap Lestari.</p>
<p>Pada saat aku dilahirkan, aku telah memiliki satu kakak laki-laki. Dan kakakku yang kedua adalah perempuan. Jarak umurku dengan kakak perempuan adalah lima tahun. Setelah umurku dua tahun, ibu melahirkan lagi adik laki-laki yang kemudian diberinama Asep.R.</p>
<p>Pada saat aku bersusia lima tahun, orang tua menyekolahkanku di Taman Kanak-kanak (TK) Swadaya selama 1 tahun. Lalu menyekolahkanku di SD I Swadaya sampai tuntas selama enam tahun.</p>
<p>Masa kecilku dulu, saat duduk dibangku TK, hanya memilki seorang teman bermain. Itupun bukan teman di sekolah, melainkan anak tetangga. Namanya Mala. Entah bagaimana mulanya, aku memanggilnya dengan panggilan &#8220;Ade&#8221;. Padahal jika dilihat dari postur tubuhnya, dia lebih besar dan lebih tinggi dari aku.</p>
<p>Kami sudah seperti saudara. Hubungan kedua orang tua kami pun begitu baik. Selain dengan temanku, aku menghabiskan waktu bermain dengan kakak perempuanku. Persabatan dengan teman masa kecilku ini harus berakhir saat kami kelas empat SD. Entah apa penyebab ketidaklarasan kami dalam berteman. Sampai sekarang, jika bertemu hanya sekedar senyum atau mengobrol sejenak. Bahkan hubungan kedua orang tua kami juga menjadi renggang, walaupun kami masih tetap sekampung dan bahkan bertetangga.</p>
<p>Pada saat umurku tujuh tahun, kakak selung meninggal dunia. Saat itu, aku masih duduk di bangku kelas dua SD. Selama tiga bulan, dari mulai ditinggalkan, ibu sakit dan seringkali seperti orang tidak sadar, tidak perduli dengan semua orang. Akhirya, karena ibu merasa kehilangan, kedua orang tuaku menginginkan lagi seorang anak sebagi penggantinya.</p>
<p>Pada saat aku berumur 10 tahun, waktu duduk di kelas lima SD, aku memiliki seorang adik lagi. Kedua orang tuaku mengingikan seorang anak laki-laki, tetapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan memberikan seorang adik perempuan yang kemudian diberinama Dian. Jarak antara aku dan adikku yang bungsu 10 tahun, sedangkan  jarak antara adik laki-laki dengan adik bungsuku delapan tahun.</p>
<p>Semenjak masuk sekolah kelas satu sampai lima SD, ibu selalu mengantarkan aku dan adik ke sekolah, menunggu sampai waktu istirahat tiba. Ibu selalu membawa makan,  dan kami disuapi. Teman-teman di SD, mayoritas beragama Kristen. Meski berbeda agama, tapi kami berteman dengan baik. Kami saling menghargai satu sama lain.</p>
<p>Saat aku menginjak bangku kelas tiga SD, aku mempunyai teman baru, seorang siswa pindahan dari kota Sumedang. Sahabatku ini bernama Indri. Dia keturunan blasteran Sunda-Cina, ayahnya keturunan cina yang yelah menjadi mualap. Perawakan waktu kecil bahkan sampai sekarang pendek, putih, gendut, seperti orang Jepang.</p>
<p>Temanku orangnya cerewet, tapi baik hati. Kami duduk sebangku sampai kelas enam SD. Kami  berteman akrab dan bahkan bersahabat sampai saat ini. Setiap hari, kami selalu menghabiskan waktu bersama-sama, baik dirumah ataupun disekolah. Karena rumah sahabatku ini jauh dari sekolah, maka setiap pulang sekolah dia menghabiskan waktu di rumahku.  Pukul 06.00 Wib, Indri sudah tiba dirumahku untuk  bersama-sama pergi kesekolah. Pulang sekolah pun Indri menghabiskan waktu di rumakku sampai pukul 16.00 Wib, sampai ayahnya menjemput untuk pulang.</p>
<p>Di rumah, kami mengerjakan PR  dan main bersama. Dan jika hari Minggu tiba, gilaran aku yang main kerumahnya, pergi ke toko buku, hanya sekedar baca buku atau baca dongeng anak-anak. Memang rumahnya dekat denngan toko buku. Orang tua kami sudah saling mengenal dan saling percaya. Selama kami bersahabat, sampai sekarang, kami tidak pernah saling terlibat konflik, karena kami sangat menjaga perasaan satu sama lain dan menjaga persahabatan.</p>
<p>Menginjak kelas enam SD, ada kejadian yang membuatku terpukul dan sedih. Yaitu pasa saat pembagian nilai ujian akhir untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Dulu namanya NEM. Pada saat NEM diumumkan, aku berharap bisa masuk ke SMP yang aku inginkan, karena sebelumnya ada ujian sementara atau NEM bayangan, dan aku mendapatkan nilai yang cukup besar, bahkan nilai paling tinggi. Tapi saat pembagiaan Nem yang asli, aku menjadapatkan nilai yang paling kecil diantara teman-teman sekelas.</p>
<p>Hatiku hancur dan seolah tidak punya masa depan. Aku merasa bodoh dan menyesal sudah mengecewakan kedua orang tua. Aku sedih dan tidak mau sekolah karena merasa malu. Tapi kedua orang tuaku masih menyayangiku dan memasukkanku ke SLTP YWKA.</p>
<p>Setelah acara perpisahan di SD, kami pun berpisah dengan teman-teman, termasuk sahabatku indri. Dia pindah rumah yang lebih jauh lagi dari sebelumnya. Untuk berkunjung ke rumahnya, harus menumpuh jarak satu setengah jam, naik bis Damri, karena letak rumahnya di daerah Bandung Timur. Walaupun kami telah berpisah sekolah dan tidak bersama-sama lagi, tetapi komunikasi dan silahturahmi terus terjalin. Terkadang dua atau tiga bulan sekali, sewaktu ada waktu libur sekolah, kami bertemu. Jika aku yang punya waktu, aku yang menyempatkan main ke rumahnya dan menginap di rumahnya untuk melepas rindu, begitupun sebaliknya indri yang bermain ke rumahku.</p>
<p>Semenjak aku masuk SMP, aku sadar bahwa aku masih mempunyai kesempatan untuk berprestasi dan <em>alhamdulillah </em>Tuhan mengambulkannya. Sampai kelas tiga SMP, aku selalu mendapatkan juara kelas, bahkan juara umum. Dengan begitu, aku sadar bahwa kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Dan kegagalan dapat membangun kita untuk lebih maju. Selain itu, masih ada hari esok untuk berusaha menjadi lebih baik lagi. Di SMP, aku juga mempunyai sahabat bernama Murtia. Aku mulai bersahabat denganya pada saat aku naik kelas dua SMP. Selain itu, aku dekat dengan teman laki-laki yang sama-sama berprestasi.</p>
<p>Di SMP, aku mulai selektip dalam memilih teman. Bukan bermaksud memilih-milih, melainkan untuk menjaga agar aku tidak terjerumus pada pergaulan yang kurang baik. Karena ada sebagian teman-temanku yang dalam belajar kurang serius. Mereka hanya mementingkan bermain, mulai mengenal lawan jenis bahkan ada yang bergaul lebih dari anak-anak sewajarnya . Di SMP, aku juga sangat dikenal oleh seluruh guru, karena aku termasuk murid yang dianggap baik.</p>
<p>Pada saat kelas tiga, aku dan Murtia tidak duduk sebangku. Aku malah duduk bersebelahan dengan orang yang menjadi sainganku dalam mengukir prestasi. Nurjanah namanya, sedikit jutek dan galak, pun tidak pernah mau bertukar fikiran denganku.</p>
<p>Pada saat perpisahan kelas tiga, sekolah kami selalu mengadakan acara dari tahun-ke tahun, yaitu acara resmi pelepasan yang dilaksanakan di gedung. Seluruh muridnya menggunakan pakaian adat. Untuk anak yang  telah berperstasi, sekolah telah mengundang orang tuanya sebagai tamu. Selain itu, anak yang mendapatkan nilai paling tinggi dijadikan pengantin. Aku berharap orang tuaku akan mendapatkan undangan karena aku temasuk salah satu murid yang medapat nilai matematika tertinggi dan selalu mendapat juara kelas dari mulai kelas satu.</p>
<p>Sayang, hanya mimpi. Dua orang perwakilan orang tua murid yang diundang dalam satu kelas adalah temanku yang mendapatkan peringkat ke dua di kelas, dibawah aku. Dan satu orang lagi adalah orang tua dari temanku yang bersaudara dengan guru matematika. Tapi&#8230; tidak jadi masalah. Hanya kecewa saja, tidak bisa membahagiakan orang tuaku.</p>
<p>Setelah keluar dari SMP, aku masuk ke Sekolah Menengah Umum Pasundan 3 Bandung. Sebenernya aku ingin masuk ke sekolah negri, tapi aku salah pilih, nilai yang kumiliki tidak sesuai dengan penerimaan sekolah yang aku inginnkan. Kurang sedikit. Akhirnya aku memilih ke Swasta. Awal masuk SMU, rumahku pindah, dan aku pun harus menyuasaikan diri dengan tempat tinggalku yang baru dan sekolahku yang baru.</p>
<p>Prestasi di SMU tidak sebagus di SMP, karena banyak yang lebih pintar dariku. Di sekolah, aku mempunyai banyak teman yang baik-baik. Pada saat aku naik ke kelas dua, aku masuk ke kelas yang paling unggul dalam berperstasi. Saat kelas dua SMU, aku mulai merasakan indahnya masa-masa SMU. Aku telah menemukan sahabat-sahabat yang sampai sekarang masih terjalin dengan baik. Walaupun sempat ada konflik. Awal mula terjadi masalah karena  aku fikir di kelas unggulan ini semuanya pintar, tapi ternyata tidak. Orang yang duduk di belakangku, yang sekarang menjadi sahabat-sahabatku, kerjaannya hanya menyontek padaku.</p>
<p>Suatu hari, pada saat ulangan fisika, aku tidak memberi nyontek kepada mereka dan aku mendapatkan nilai yang paling besar. Sedangkan mereka nilainya kecil dan memalukan bagi anak-anak kelas unggulan. Aku tidak memberi nyontek dengan  maksud agar mereka mau berfikir dan mau mengerjakan apapun tanpa minta bantuan orang lain sebelum berusaha untuk mengerjakannya sendiri. Tapi mereka tidak pernah sadar, mereka hanya menganggap aku yang tidak mau berbagi.</p>
<p>Yang memebuat aku sadar untuk berbagi dengan mereka adalah pada satu hari aku mendapatkan nilai kecil dan tidak dapat mengerjakan tugas. Dan ada temanku yang jauh lebih pintar dari aku. Semenjak itu, aku sadar bahwa aku tidak bisa apa-apa. Yang aku miliki hanyalah sebagian kecil dari orang-orang, dan aku sadar aku tidak boleh sombong. Masih banyak orang yang jauh lebih pintar dan lebih baik dari aku. Semenjak itu kami pun bersahabat, empat orang  perempuan. Dan bertambah lagi dua orang perempuan dari kelas sebelah, serta lima orang laki-laki di kelas kami. Setiap ada tugas kami mengerjakan bersama, berbagai pendapat, bahkan disaat ulangan pun kami harus sejalan dan harus kompak.</p>
<p>11 sekawan adalah Taty, Wita, Dian, Nisa, Iim, Seni, Agus, Gilang, Hendro, Oris, Apdul. Nisa adalah teman sebang yang sangat baik, suka mengalah, sering mengajak aku untuk segera melaksanakan salat dan mengajak ibadah lainnya seperti berpuasa. Tetapi dia sangat tidak menyukai pelajaran Bahasa Inggris.</p>
<p>Taty dan Dian adalah orang yang tepat duduk dibelakangku. Dian juga teman les Bahasa Inggris. Dia orangya cukup baik tetapi ingin menang sendiri. sedangkan Tatay oranya baik, selalu mengerti dan selau membantu jika aku sedang mempunyai masalah. Dia sebagai teman curhat yang mengetahui semuanya tentang aku. Diantara kami, dia juga orang yang paling akrab dengan teman dan sahabat laki-laki.. Sedangkan Wita, orangnya baik tetapi kurang enak untuk dijadikan teman curhat. Seni dan Iim karena berbeda kelas, kami bertemu saat waktu istirahat dan saat pulang sekolah. Sahabat-sahabat laki-laki, tidak terlalu sering berkumpul, kecuali jika akan mengadakan main atau kunjungan bersama di luar sekolah.</p>
<p>Taty adalah sahabatku yang paling dekat denganku dan keluargaku, karena dia sering bermain ke rumah, bahkan menginap. Dia harus berjuang hidup dengan ibunya, karena ayahnya telah meninggal dunia semenjak dia kecil. Selain itu, ibunya hanyalah pekerja pabrik, dan mereka tinggal di tempat kerja ibunya. Taty  adalah sahabat yang kuat, dan sabar mempuyai teman-teman yang jauh lebih mapan dari dia, yang memilki kelurga yang sempurna, walaupun terkadang dia suka minder dengan kondisinya, tapi aku dan teman-temanku mau menerima apapun kekurangan sahabat.</p>
<p>Aku tidak pernah memermasalahkan material. Yang penting buat kami: sahabat adalah orang yang bisa nerima dan mengerti apa adanya dan harus ada keterbukaaan satu sama lain.</p>
<p>Menginjak kelas tiga, kami berpisah kelas. hanya sahabat sebangku, Nisa yang masih setia memnemaniku, walaupun kami berbeda kelas. Persahabatan kami tidak pudar. Sewaktu jam istirahat, sahabat-sahabatku berkumpul bersama di kelasku. Selain itu, jika ada waktu senggang, sepulang sekolah kami berkumpul di rumahku.</p>
<p>Waktu sekolah pun tidak terasa. Perpisahan digelar di Villa Bogor bersama teman-teman dan guru-guru. Akhirnya, masa remaja telah aku lalui bersama teman-teman dan aku sudah beranjak dewasa, untuk melanjutkan pendidikan ke tahap selanjutnya. Walaupun perpisahan telah berakhir, tapi persahabatan kami masih dan harus tetap terjalin dengan baik.</p>
<p>Untuk masuk Perguruan Tinggi, harus sesuai dengan minat dan kemampuan kita lebih cocok di bidang apa. Tetapi sampai saat ini, aku kurang mengerti hobi aku sebenarnya apa. Yang jelas, aku suka membaca, terutama membaca novel, cerpen, puisi yang terkadang kurang kupahami. Selain itu, aku selalu ingin membantu orang yang mempunyai masalah, terutama teman atau orang yang telah berbagi cerita denganku. Selain itu, aku juga suka memasak. Satu hal, aku tidak menyukai olah raga. Pada saat sekolah, aku lebih menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Bahkan nilai dirapot dan hasil ujian akhir sangat tinggi nilainya.</p>
<p>Untuk memasuk Perguruan Tinggi, aku mengikuti jalur PMDK. Jalur ini hanya melampirkan raport kelas tiga semester I. Tapi keberuntungan tidak berpihak kepadaku untuk masuk UPI. Karena tidak masuk, akhirnya aku mengikuti tes masuk  ke Poltekes dengan mengambil jurusan Kebidanan, dan Tes Masuk PGSD yang ada di UPI. Tapi&#8230; Tuhan tidak mengizinkan kedua-duanya. Padahal, semua sahabatku masuk perguruan tinggi walaupun ada beberapa orang masuk universitas swasta. Sahabatku yang laki-laki ada yang menjadi polisi.</p>
<p>Karena kondisi keuangan keluargaku yang tidak memungkinkan untuk masuk universitas swasta, akhirnya aku memutuskan untuk mencari kerja terlebih  dahulu. Masih ada kesempatan tahun depan untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Meski sebenarnya perasaanku tidak mau menerima semua ini, aku harus bekerja dan menunda impianku. Aku merasa malu oleh teman-temanku dengan keadaan ini. Tetapi walau bagaimanapun aku harus menerimanya dengan ikhlas dan sabar. Mungkin Tuhan mempunyai rencana lain yang lebih baik untukku.</p>
<p><em>Alhamdulillah </em>tidak lama setelah melamar pekerjaan, aku mendapat panggilan kerja di sebuah toserba sebagi menjual sepatu. Setelah dua hari kerja, ada peristiwa yang tidak akan pernah aku lupakan, paling indah, setelah keluar SMU bersama teman-temanku. Saat itu, hari ulang tahunku, malamnya Taty, sahabatku menginap di rumahku dan tepat pukul 00.00 WIB, teman-temanku datang ke rumah untuk merayakan hari ultahku. Mereka datang membawa kue tar, bunga mawar dan sebuah kado. Aku tidak pernah menyangka bahwa semua teman-temanku sangat menyayangiku, memberikan kejutan yang membuat aku sangat bahagia.</p>
<p>Aku bekerja sebagi SPG hanya bertahan dua minggu. Setelah sebulan keluar dari SPG, aku mendapat tawaran lagi untuk menjadi seorang ADM di sebuah perusahaan sepatu. Disana aku bekerja selama tiga bulan. Karena aku sakit, akhirnya aku keluar juga. Aku sadar ternyata mencari uang itu tidak mudah. Waktu, tenaga harus dikorbankan demi mencari sesuap nasi dan demi mencari upah yang tidak seberapa.</p>
<p>Dua bulan setelah sembuh, aku ditawari lagi bekerja oleh perusahaan sepatu, tempat pertama aku bekerja, karena personalianya adalah sahabatnya temanku waku SMU. Aku bekerja hanya sebulan. Bukan aku tidak nyaman, tetapi aku memilih untuk berusaha menggapai cita-citaku terlebih dahulu.</p>
<p>Aku mencoba mengikuti tes masuk PDSG, UIN dan SPMB. Mudah-mudahan keberuntungan kali ini berpihak padaku. Wita, sahabat dekatku semasa SMU juga mengikuti tes PGSD. Semaksimal mungkin aku mengikuti tess PGSD dan aku sangat optimis untuk masuk PGSD, karena itulah yang aku cita-citakan selama ini.</p>
<p>Aku masih ingat waktu itu hari Jumat adalah pengumuman penerimaan masuk UIN, dan pada hari sabtunya pengumuman penerimaan PGSD. Aku tidak pernah berharap untuk masuk UIN, karena yang aku tahu, tak ada seorang teman SMU yang masuk UIN. Selain itu, UIN lebih dominan pada  pendidikan agam Islam, sedangkan aku tidak memiliki ilmu tentang Islam yang lebih mendalam. Aku mengikuti tes masuk UIN hanya keinginan ibuku saja. Bahkan ayahku sempat tidak mendukung. Aku hanya ingin masuk PGSD, karena aku sadar, aku tidak mampu mengikuti SPMB ataupun jalur khusus masuk UNPAD.</p>
<p>Pada Jumat pagi-pagi, saat aku bangun tidur, langsung menuju tempat penjualan koran yang tak jauh dari rumahku. Aku langsung melihat pengumuman. Dengan jelas, aku melihat bahwa nama dan No. tes aku tertera di bagian jurusan KPI, pilihan pertamaku. Aku memilih jurusan ini tanpa punya tujuan yang jelas, tanpa keinginan dan cita-cita. Aku hanya menerima saran dari tetanggaku yang kebetulan lulusan dari KPI. Bahkan saat aku mendaftar masuk, aku memilih jurusan ini tanpa mengetahui jelas apa yang ada didalamnya. Setelah mendengar bahwa aku lulus di UIN, ibuku sangat senang mendengarnya, karena beliau khawatir aku tidak masuk PGSD dan SPMB. Perasaaanku saat itu biasa saja, harapanku masih ada esok untuk menunggu pengumuman PGSD.</p>
<p>Keinginanku memilih PGSD, karena aku ingin menjadi guru. Selain itu, aku ingin menjadi Pegawai Negri (PNS). Semalam menunggu pengumuman sampai tidak bisa tidur. Aku takut tidak masuk PGSD dan harus menerima kenyataan. Pagi harinya, Sabtu, aku langsung menuju warnet untuk melihat hasil pengumuman PGSD, karena pengumumannya tidak ada di koran. Saat aku mencoba membuka situsnya dan berkali-kali mencoba memasukan No. Ujian PGSD, tidak muncul namaku, apalagi ucapan &#8220;Selamat Anda Berhasil&#8221; atau apapun. Dan aku mencoba menanyakan kepada teman yang sama-sama ikut tes. Wita bilang namanya ada dan diterima. Namaku tidak ada. Artinya aku tidak diterima.</p>
<p>Setelah mendengar itu, perasaanku hancur, sedih. Kenapa aku selalu gagal dalam mencapai cita-cita dan impian-impianku? Walaupun ada satu lagi pengumuman, yaitu SPMB, tapi aku tidak yakin karena aku tahu saingan masuk UPI lewat SPMB tidaklah mudah. Dan setelah tiba waktu pengumuman SPMB, aku meminta teman di UPI untuk melihat di warnet pada malam sebelum koran terbit. Dan ternyata dugaanku memang benar, bahwa kau tidak masuk UPI. Untuk meyakinkan diriku, paginya aku memebeli koran dan mencoba melihat. Memang benar, aku tidak lulus dalam SPMB.</p>
<p>Akhirnya mau tidak mau aku harus menerima semua ini. Aku harus masuk UIN. Walaupun awalnya aku tidak mau, tapi ibu terus memaksa, karena aku tidak diberikan kesempatan untuk masuk universitas swasta. Jika aku ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi, aku harus masuk PTN, dan hanya UIN yang menerimaku. Awalnya ayah dan sauda