Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) merupakan program studi unggulan pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Keberadaan Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam diperkuat dengan izin operasional berdasarkan SK Menag No. 393 Tahun 1993 tertanggal 29 Desember 1993.

Jurusan KPI memusatkan kajiannya pada dakwah bi ahsan al-qaul berupa tabligh dalam bentuk (1) khithabah (khutbah diniyah dan ceramah keagamaan); (2) kitabah (2) kitabah (dakwah melalui tulisan), buku media dan media cetak; (3) I’lan, yakni dakwah melalui media eletronik dalam bentuk penyiaran, baik broadcast radio dan televisi, serta film dakwah. Dalam proses pembelajaran di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam digunakan pendekatan istinbath (al-Qur’an dan hadits), iqtibas (interdisipliner) dan istiqra (kajian sosial). Oleh sebab itu, tidak ada lagi pandangan adanya dikhotomi ilmu (agama dan umum), melainkan sebagai entitas yang integrated dan integral.

Berdasarkan pendekatan itu, diharapkan Program Studi KPI dapat menghasilkan lulusan yang beriman, bertakwa dan unggul serta memiliki daya tawar yang diperhitungkan di tengah masyarakat pengguna, yaitu sosok cendikiawan muslim (ulul albab) yang beraqidah dan berfikrah islami serta berakhlak mulia yang memiliki keahlian dan keterampilan dalam bidang tabligh”.

Sejak diresmikan sampai dengan sekarang Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam telah menghasilkan lulusan yang tersebar di seluruh Indonesia, bahkan pada beberapa negara tetangga, seperti di Malaysia dan Thailan. Alumni Jurusan pada saat ini telah menempati beberapa posisi penting, baik pada beberapa instansi pemerintahan seperti pemerintah kabupaten/kota dan menjadi anggota dewan, khususnya anggota dewan perwakilan rakyat daerah. Selain itu, alumni KPI juga menjadi mubaligh kondang dan artis, serta presenter baik lokal maupun nasional.

Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, telah mengalami tiga kali perubahan kepemimpinan, pada periode pertama dan kedua dipimpin oleh Drs. H. Saefuzzaman, MA., kemudian pada periode ketiga dan keempat dipimpin oleh Dra. Siti Sumijaty, M.Si. dan sekarang kepemimpinan Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam diamanahkan kepada Drs. Enjang AS, M.Si,M.Ag.

2 Komentar untuk tulisan Sejarah Singkat

  1. Komentar dari:
    hamzah - 13-12-2008 pukul 05.47

    KPI; semoga jaya
    buat dong S-2 terus s-3 nya
    syukran

    A.Hamzah Badruz Zaman

  2. Komentar dari:
    Tedi Setiadi - 15-12-2008 pukul 17.44

    Memang susah jadi manusia saat ini. Karena sekarang ini katanya zaman edan, kalo nggak ikut edan nggak keduman. Makanya banyak anggota dewan yang makan dana siluman. Bahkan ketika ada anggota dewan yang terkenal ‘putih’ diingatkan agar jangan ikut-ikutan, tapi katanya dana itu sayang jika tidak dimanfaatkan, untuk modal bergerak dalam perjuangan. Maka sudah dike manakankah sosok iman, yang seharusnya Qur’an dan Sunnah jadi pedoman, yang bukan hanya semangat dan indah saat diucapkan, dalam kajian – kajian rutin pekanan.
    Katanya zaman kiwari, kalo nggak jual diri nggak makan nasi. Makanya sekarang banyak anak – anak gadis jual diri. Isteri – isteri buka ‘lapak’ dengan alasan bantu suami. Bahkan ada yang lebih parah sang ibu kandung jadi mucikari. Karena langganannya adalah para anggota Dewan yang baik hati. Dengan alasan membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan di negeri ini. Apakah mereka sudah tidak punya harga diri, umbar aurat hanya demi sesuap nasi, seolah sudah tidak ada jalan keluar lagi, seolah jika tidak melakukan itu mereka akan mati. Bukankah rezeki sudah ditetapkan oleh Sang Robbul Izzati. Tinggal bagaimana langkah kita untuk menjemput rezeki. InsyaAllah rezeki yang halal itu telah menanti.
    Katanya zaman gila, kalo nggak gila nggak bahagia. Makanya keluarlah prinsip jika ada kesempatan kita sikat saja. Halal haram sudah dilupa. Uang korupsi dibilang untuk bisnis jualan permata. Yang penting rumah megah ada dua, mobil mewah ada lima serta banyak tanam modal dalam reksadana. Lupakah mereka bahwa dunia ini hanya sementara, dunia yang sifatnya fana, hanya menunggu saat berakhirnya. Bukankah kabar gembira telah datang kepada mereka, akan adanya syurga yang siapapun akan kekal didalamnya. Maka mengapa mereka tidak tergoda untuk masuk kedalamnya.
    Katanya zaman gendeng, kalo nggak sableng nggak dianggap gayeng. Makanya ada motto buat apa hidup dibikin puyeng. Buat apa harus terikat dengan aturan agama untuk hidup yang nggak langgeng. Ngegele di kamar kost dan pergaulan bebas barulah greng. Apakah mereka tidak mudeng? Bahwa perbuatan mereka hanya memuaskan para pemilik modal yang berotak gendeng.
    Katanya zaman mbeling, kalo nggak clubbing nggak dianggap orang penting. Makanya banyak orang yang hobi minum topi miring. Ada ayah yang menggauli anaknya sampai bunting. Berbuat amanah bukan lagi hal yang penting. Akibatnya banyak Anggaran Negara dan Anggaran Daerah yang digunting. Yang penting keluarga dan rekan kerja puas main banking, tak peduli banyak rakyat yang bunuh diri karena pusing. Lupakah mereka dengan hari yang genting. Di Yaumul Hisab kala amal mereka ditimbang ternyata banyak yang garing, dengan hadiah azab neraka yang mendengarnya saja bikin bulu kuduk merinding.
    Katanya zaman sedeng, kalo nggak sedeng nggak digandeng. Makanya banyak pemimpin yang tutup mata kala banyak pengusaha membangun bedeng. Bedeng untuk jual miras dan lokalisasi berbuat sedeng. Karena merekalah yang mensuplai dana kampanye Pilkada dan Pemilu untuk para Kanjeng. Sehingga setelah terpilih seolah mata mereka tertutup hordeng. Harusnya mereka tahu bahwa jabatan sebenarnya bagaikan kaleng, yang ketika diinjak kaki pastilah gepeng. Maka ketika menjabat seharunya mereka menutup bedeng – bedeng, yang membuat masyarakat berbuat sedeng.
    Katanya zaman kalabendu, orang yang berbuat lurus dianggap lucu. Makanya KKN adalah motto hidupku. Sekolah dan guru jualan buku, yang wajib dibeli oleh para wali murid yang pasrah mati kutu, padahal mereka lagi pusing untuk bayar SPP bulan lalu. Sedangkan mereka sudah digaji dari pajak rakyat jenis ini itu. Seharusnya mereka bahu membahu, untuk menghilangkan kebodohan yang sudah membeku, yang dirintis oleh para penjajah sejak ratusan tahun lalu. Sehingga ketika ditanya oleh Allah Yang Maha Tahu, sudahkah menunaikan kewajiban atas jabatanmu itu. Maka senyum merekah akan hadir dari bibirmu, lantas berikan bukti jutaan anak didik yang sekarang tunduk menyembah kepada Allah Yang Satu.
    Katanya zaman burik, jadi orang baik malah dihardik. Maka ketika nasehat diucapkan yang terjadi adalah polemik. Guru tak mau mendengarkan kebenaran dari anak didik. Tetangga tak mau diingatkan bahkan yang menasehati dibilang udik. Anak mengingatkan orang tua malah dibawaan badik. Bukankah Rosulullah datang untuk meningkatkan akhlak manusia menjadi baik. Buahnya adalah hubungan antara sesama adalah ibarat kilauan pelangi yang menarik. Sehingga ketika nasehat datang seharusnya yang terucap adalah labbaik.
    Saat berharap itu telah tiba
    Dikala zaman sungguh susah ‘luar biasa’, yang bisa membuat banyak orang putus asa, maka sambutlah bahwa ramadhan itu telah tiba. Sebuah bulan yang sungguh mulia, namun bisa saja dinanti atau dibenci oleh para pecinta, tergantung dari sudut mana ia melihatnya.
    Ada golongan para pecinta yang sangat bersuka cita dengan kedatangannya. Mereka menganggap saat berharap itu telah tiba. Berharap untuk keadaan diri dan negara. Agar zaman edan ini segera sirna.

    by: Tedi Setiadi ( Permata Intan Garut )

Tulis Komentar.